Thuk Reng

Pagi-pagi sekitar jam 7 kadang ada mas-mas berbaju rapi dan berdasi yang lewat sebari naik motor dan dari pelantang suara (jadi inget penjual gethuk lindri yang ider pakai gerobak dorong) yang dipasang di bawah kotak yang berada di jok belakang terdengar jelas bahkan dari gang sebelah suara teriakan

thuk reng… thuk reng… gethuk goreng…

Karena tidak setiap hari lewat, jadinya lebih sering bikin penasaran seperti apa sih rasanya. Kadang kalo ngga pengen si Mas lewat begitu saja, tapi begitu pengen beli si Mas itu malah nggak lewat. Kebetulan pagi ini pas pengen dan si Mas berdasi ini jadinya bisa deh ngincipi gethuk goreng ini.

gethuk goreng

Ternyata selain model yang jualan yang rapi dan berdasi, varian gethuk goreng ini juga sudah mengikuti kemajuan jaman. Selain diberi isian gula jawa seperti gethuk pada umumnya, juga ada varian yang kekinian yang diberi isian cokelat. Karena baru nyoba pilih yang aman saja, varian original saja yang isian gula jawa. Dan ternyata enak juga, apalagi mengingat makanan ideran seharga empat ribuan sebungkus.

ada cerita apa dengan jajanan ideran di sekitarmu?

Tirakatan di rumah aja

Biasanya setiap malem tujuh-belasan (di bulan proklamasi kemerdekaan) di kampung selalu diadakan acara tirakatan. Kadang sekedar ajang kumpul-kumpul warga sembari bagi-bagi hadiah buat lomba agustusan, kadang kalo ada dana lebih juga sampe ada acara karaoke atau malah bikin panggung kecil-kecilan.

Walaupun kalo dipikir-pikir pemakaian judul tirakatan juga gak nyambung (menurutku lhoo), karena kalo ngintip KBBI tirakat itu artinya berpantang sesuatu atau malah pergi menyendiri di tempat sepi, tapi malah ngumpul-ngumpul bareng dan makan-makan sambil menikmati acara yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Tapi ya biarlah, nyenengin orang banyak itu kan (semoga saja) berpahala. Gak usah dan gak perlu dipermasalahkan. 😁

Trus untuk tahun corona ini bagaimana? Alhamdulillah tidak diadakan, malah tadi sore pak RT sendiri yang keliling sambil bagi-bagi dus makanan dan ada selembar kertas yang bertuliskan TIRAKATAN DI RUMAH AJA. Terimakasih pak RT. 😊

Tirakatan di rumah aja
Tirakatan di rumah aja

Ya sudah, gak usah nunggu yang upacara bendera atau semacamnya, mari segera disantap… 🤤 🍽️

MERDEKA!!!

Barongan

baronganBeberapa tahun ini acara agustusan dalam rangka memperingati kemerdekaan republik Indonesia tercinta ini agak sepi (kurang meriah) dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Wajar saja karena bulan agustus beberapa tahun barengan dengan bulan ramadhan, jadinya lomba-lomba agustusan agak dikurangi dan karnaval juga ditiadakan.

Ada satu hal yang ngangeni di karnaval agustusan yaitu adanya barongan dan atraksi mengganggu menakut-nakuti penonton anak kecil yang dengan sok berani menggoda sang barongan beserta bondhet yang menyertainya. Sepertinya atraksi barongan (yang mengejar penonton) seperti ini hanya ada di Purwodadi ya? (mohon koreksi jika saya salah).

Mungkin juga Barongan adalah kesenian lokal Purwodadi (dan kabupaten Grobogan) yang harusnya bisa digali lebih dalam dan disosialisasikan sehingga paling tidak saya jadi lebih paham tentang kekayaan budaya Grobogan. Karena saya masih inget dulu di Museum Purwodadi juga ada kepala barongan dengan ukuran super besar yang dipajang, dan ini bikin saya merasa serem kalo pas lihat barongan itu (entah karena apa saya juga nggak paham).

Adakah yang punya cerita menarik tentang seni barongan di Purwodadi – Grobogan? Pernah digigit barongan mungkin. :D

Ruwahan

Ruwahan berasal dari kata Ruwah yang merupakan bulan ke-tujuh dalam penanggalan jawa, yang selalu berbarengan dengan bulan Sya’ban tahun Hijriyyah. Kata Ruwah sendiri ( konon katanya) memiliki akar kata arwah atau roh para leluhur dan nenek moyang. Maka tidaklah mengherankan kalau pada bulan Ruwah banyak orang yang merantau menyempatkan pulang untuk Nyadran ke makam orang tua dan leluhurnya.

Dulu waktu kecil waktu masih di (m)Brambangan ada tradisi ater-ater apem pas ruwahan. Walaupun judulnya ater-ater apem namun makanan sajen yang dihantar ke tetangga itu tidak cuma berupa kue apem saja, namun beserta pisang raja, nagasari dan ketan… (yang ini versi ibu’ untuk ruwahan tahun ini)

ater-ater apem ruwahan
Btw kalau berdasar literatur yang saya baca si nagasari ini harusnya kolak… namun tak apalah, masih sama-sama makanan tradisional dari jawa juga kan? Soalnya ada juga kemarin yang ruwahan pake roti (bukan roti yang ada  rasa bahagianya lhoo…) tetep aja nikmat tuh… Hari gini.. dapet makanan gratis mau bilang gak enak?? :D

*Inilah ruwahan ceritaku… Bagaimana ceritamu? :D