Thuk Reng

Pagi-pagi sekitar jam 7 kadang ada mas-mas berbaju rapi dan berdasi yang lewat sebari naik motor dan dari pelantang suara (jadi inget penjual gethuk lindri yang ider pakai gerobak dorong) yang dipasang di bawah kotak yang berada di jok belakang terdengar jelas bahkan dari gang sebelah suara teriakan

thuk reng… thuk reng… gethuk goreng…

Karena tidak setiap hari lewat, jadinya lebih sering bikin penasaran seperti apa sih rasanya. Kadang kalo ngga pengen si Mas lewat begitu saja, tapi begitu pengen beli si Mas itu malah nggak lewat. Kebetulan pagi ini pas pengen dan si Mas berdasi ini jadinya bisa deh ngincipi gethuk goreng ini.

gethuk goreng

Ternyata selain model yang jualan yang rapi dan berdasi, varian gethuk goreng ini juga sudah mengikuti kemajuan jaman. Selain diberi isian gula jawa seperti gethuk pada umumnya, juga ada varian yang kekinian yang diberi isian cokelat. Karena baru nyoba pilih yang aman saja, varian original saja yang isian gula jawa. Dan ternyata enak juga, apalagi mengingat makanan ideran seharga empat ribuan sebungkus.

ada cerita apa dengan jajanan ideran di sekitarmu?

Warung Covid19

Di masa pandemi global sekarang ini katanya salah satu cluster penyebaran covid19 adalah restoran, kafe, dan tempat makan/minum semacamnya. Sudah ada beberapa cluster rumah makan dan semacamnya yang mulai ramai dibicarakan. Semoga saja gak makin banyak lagi cluster penyebaran covid19 yang bermunculan.

Minggu pagi ini saya gowes sendirian muter-muter kota, dan gak sengaja nemu sesuatu yang bikin tangan gatel untuk jepret. Warung yang satu ini berani beda, karena diberi nama Warung Covid19.

Warung Covid19
Warung Covid19

Pagi ini warung terlihat belum buka, mungkin buka nanti sore atau malam. Jadi gak ngerti juga jualan apa saja. Semoga saja bukan tempat jualan Covid19. Entah kenapa pula warung ini diberi nama Covid19. Mungkin menyesuaikan dengan yang lagi ngetrend, biar kekinian. Mungkin juga biar ada yang motret trus diaplot di internet jadi biar viral trus warungnya rame. Agaknya semacam warung laperpool dan warung bakso dimana Ultraman pernah makan disitu. Suatu trik bisnis yang sangat baik. Bisa ditiru nih.. 😁

Kupat lepet

Hari lebaran (Idul Fitri) selalu identik dengan suatu makanan yang sangat ikonik yaitu ketupat. Tapi ada satu hal yang agak mengganggu ketika dulu sering ditanyakan sudah makan ketupat apa belum di hari raya. Karena tidak seperti yang ramai gambar ketupat ketika lebaran, bagi orang Jawa ( khususnya Jawa tengah) ketika lebaran tidak langsung rame-rame menyerbu ketupat. Orang Jawa memiliki budaya lebaran ketupat (bada kupat atau seringkali disingkat dengan kupatan) seminggu setelah sholat Ied.

Seperti hari ini, orang-orang sedang merayakan bada kupat. Bagi banyak orang hari ini saat yang tepat untuk berbagi masakan dengan tetangga dan saudara. Masakan yang dibagikan tidak jauh dari kupat (ketupat), lepet, lontong, sayur opor, sambel goreng ati, dan teman-temannya.

Kupat lepet
Kupat dan lepet

Bagaimana dengan budaya kuliner lebaran di lingkungan anda? Sama atau ada cerita lain yang menarik lainnya?

Pusat kuliner Purwodadi

Akhirnya di penghujung bulan November kemarin kota Purwodadi kembali memiliki daerah yang bisa jadi jujugan orang-orang yang hobinya memanjakan lidah dan perutnya, yaitu dengan diresmikannya PUSAT KULINER PURWODADI.

Pusat kuliner Purwodadi

Lokasinya tak jauh dari Pujapura, hanya terpisah jalan di area barat Pujapura yang sudah kadung terkenal itu. Kalo orang asli Purwodadi pasti paham, apalagi jika disebutkan area koplak dokar yang dulunya terkenal kumuh dan sempat dikenal sebagai tempat mangkalnya psk. Jadi pasti gampang menemukan tempat kulineran yang satu ini, gak bakal nyasar deh.

Kelihatannya selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan kuliner Purwodadi. Mungkin karena masih baru, masih gress. Masih ada plastiknya. Walaupun pedagangnya juga orang-orang lama, yaitu pedagang kaki lima yang sebelumnya mangkal di sepanjang jalan R Suprapto, bunderan Simpang Lima dan sekitarnya. Ngikut penataan kota yang sudah dibuat oleh pemerintah kabupaten Grobogan.

Semoga saja tetap ramai dikunjungi penikmat kuliner dan bisa menjadi jujugan orang-orang yang memang hobi kulineran, serta tidak ikut bernasib sama dengan pujapura yang akhirnya berevolusi menjadi pusat counter handphone.