A Kasoem

Dulu ketika masih jaman yellow pages, di area Purwodadi (kode area 0292) selalu diawali dengan nomer dari A. Kasoem optical baru kemudian diikuti nomer-nomer lainnya. Dan yang paling akhir selalu nama Zimmamuzurzen (lupa ejaannya seperti apa).

A Kasoem optical

A Kasoem optical ini bisa jadi salah satu landmark di Purwodadi kalo dipikir-pikir. Toko kacamata ini termasuk yang paling lama, baru diikuti optik lainnya. (Saya nggak tahu optik tertua di Purwodadi Grobogan, tapi setahu saya dari jaman presiden masih pak Harto optik A. Kasoem sudah ada di Purwodadi.) Lokasinya di komplek pertokoan Kencana, pas disamping pintu masuk ke bioskop kencana. (Jadi inget nih jaman nonton Brama Kumbara naik rajawali sakti di bioskop kencana hehehe).

Dan diawali dengan rasa iseng, saya gugling saja apa sih kepanjangan dari huruf A pada A. Kasoem optical ini. Jangan-jangan huruf A itu singkatan dari Arief. 😁

Dan ternyata… Jeng jeng

Huruf A itu singkatan dari Atjoem Kasoem. Seorang lejen ternyata. Atjoem Kasoem ini adalah orang Indonesia pertama yang punya toko optik di Indonesia setelah sebelumnya bekerja dan menjadi asisten di optik milik Kurt Schlosser. Info lengkap silahkan saja buka Wikipedia dan blog-blog yang sudah menuliskan kisah hidupnya. Jangan manja, biar kuota internet nggak cuma dipake buat nge-share hoax saja hehehe. Paling tidak, salah satu misteri abad ini sudah terpecahkan. 😀😀

Nah pertanyaannya sekarang adalah apakah hubungan antara A Kasoem optical dengan tokoh lejen Atjoem Kasoem ini. Saya nggak tahu. Silahkan cari tahu sendiri ya. 😁

Pujapura

Ada masanya dimana kota Purwodadi Grobogan ini memiliki sebuah lokasi yang menjadi pusat jajanan, baik makanan ringan maupun makanan berat tapi jangan tanya berapa kilo ya. Nama lokasinya adalah PUJAPURA. Kalo gak salah itu singkatan dari Pusat Jajanan Purwodadi (gak terlalu yakin dengan singkatan ini, kalo ada yang ingat singkatan ini mohon tinggalkan komentar dibawah, bukan jebakan umur lho). Semacam pujasera tapi khusus untuk area Purwodadi.

Dulu ada 2 lokasinya, yang kebetulan berada di tanah milik PJKA (sekarang jadi PT KAI) di lokasi yang dikenal dengan sebutan rel bengkong. Lokasi pertama berada di tikungan rel dari selatan menuju ke stasiun Purwodadi, yang sampai sekarang namanya masih dikenal dengan nama PUJAPURA. Lokasi kedua berada rel bengkong juga, pas rel menikung dari stasiun Purwodadi menuju ke jurusan ke Utara. Persisnya diarea dekat Tugu pahlawan. Sekarang sudah menjadi area ruko kencana dan taman kota, sudah tidak lagi dikenal sebagai pujapura seperti dulu (lupa lokasi yang ini dulunya dikenal dengan pujapura 1 atau pujapura 2). Jadi kalau ada yang menyebut nama pujapura maka tempat yang dimaksud adalah tempat yang pertama.

Entah bagaimana ceritanya, pusat jajanan itu sekarang menjadi pusat handphone. Tapi yang jelas sih orang Purwodadi gak menjadikan smartphone sebagai jajanan lho ya. 😀

PUJAPURA phone market
PUJAPURA phone market

Sekarang ini sepertinya sedang dibangun juga lokasi untuk pusat kuliner di Purwodadi, yang kebetulan lokasinya di dekat pujapura ini, di area yang dulunya dikenal dengan nama koplak dokar, tempat parkir dokar, yang seiring berjalannya waktu semakin tersisih oleh moda transportasi yang lebih modern. Entah kapan mulai dibukanya tempat kulineran itu, kayaknya tempatnya sudah hampir selesai.

Di dekat Taman Hijau Kota Purwodadi juga katanya akan dibangun pusat kuliner. Saat ini sih lokasinya sudah dibersihkan dan diurug dan diratakan. Entah kapan mulai digarap.

Yang pasti semoga nanti kalo kota Purwodadi sudah punya pusat kuliner gak bisa jadi jujugan warga buat kulineran dan tidak beralih fungsi seperti nasib pujapura ya… Masak pusat jajanan koq isinya jualan handphone, emangnya wong Purwodadi ngemil handphone? Ngeri thok yes. Hehehehe. 😄😄😅

Patung Pangeran Diponegoro di bunderan Getasrejo

Dulu pernah posting tentang tugu di bunderan getasrejo yang hadeh itu. Dulu ada patung di tengah-tengah bunderan yang berwujud sosok pejuang, namun sayangnya sudah beberapa bagian tubuhnya protol dan untungnya tertutupi oleh pepohonan disekelilingnya. Dan sekarang, di era Bu Sri Sumarni tugu itu direnovasi menjadi lebih megah, lebih tinggi menjulang, dan diganti dengan Patung yang sudah dikenal yaitu patung Pangeran Diponegoro yang sedang naik kuda.

patung diponegoro bunderan getasrejo
bunderan getasrejo yang baru

Nah sekarang balik lagi ke pertanyaan saya dulu, kalo memang ingin memajang sosok pahlawan, kenapa mesti impor jauh-jauh? kenapa bukan sosok pahlawan nasional yang berasal dari Kabupaten Grobogan seperti Nyi Ageng Serang? Padahal Nyi Ageng Serang juga gak kalah heroik lhoh kepahlawanannya. Atau malah jangan-jangan pada nggak tahu kalo Nyi Ageng Serang itu berasal dari Kabupaten Grobogan? Seperti si Yudi dulu yang terang-terangan mengira Nyi Ageng Serang itu berasal dari Serang Jabar. Padahal bukan. Sorry ya Yud, buka luka lama. :)

Akan sangat WOW kan kalau saja patung itu berupa Nyi Ageng Serang yang sedang naik kuda dengan bersenjatakan tombak. Ya nggak? ;)
Paling tidak orang jadi bertanya-tanya siapa sosok yang patungnya ada disana dan syukur-syukur mau mencari tahu. Tentunya dengan sosialisasi dari pemerintah juga, biar warganya tahu dan kenal dengan pahlawan nasionalnya. Bukan begitu?

Grobogan Bersemi

Dulu jaman orde baru, rasanya tiap kota memiliki semboyan yang jadi ciri khas dari kota tersebut. Seperti Jogja berhati nyaman, Semarang kota atlas, Solo Berseri, dll. Kebetulan kabupaten Grobogan juga memilikinya dengan semboyan Grobogan Bersemi yang merupakan singkatan dari Grobogan BERsih SEhat Mantap Indah.

Grobogan Bersemi

Bersamaan dengan lettersign di alun-alun purwodadi, ternyata ada juga lettersign besar berwarna merah dengan diapit sepasang obor yang dipasang di taman di dekat tugu adipura Nglejok.

Dulu kalo ada gambar dan tulisan Grobogan Bersemi seringkali dipasang dengan background berwarna hijau. mungkin menguatkan kata bersemi itu, plus dengan gambar sisa pohon yang dipotong dan telah keluar tunas baru.

Mungkin lettersign ini mau mengubah imej, citra atau apalah tentang kota Purwodadi (atau kabupaten Grobogan) menjadi kota yang memiliki semangat menyala-nyala atau bagaimana saya juga kurang tahu. Ah yang penting sudah terpasang. Gak usah protes deh. hehehe

Lettermark alun-alun Purwodadi 

Minggu kemarin di alun-alun Purwodadi saya melihat ada beberapa pekerja yang sedang menurunkan sesuatu dari mobil pickup yang membuat saya teringat postingan saya tentang proyek renovasi alun-alun.

pekerja menurunkan lettersign
pekerja menurunkan lettersign

Dulu saya menulis kalo hasil proyek kemarin itu ada yang kurang, yaitu adanya lettersign yang bisa jadi spot selfie, sekaligus menunjukkan tanda untuk landmark kota biar tidak terjadi kebingungan orang yang berasal dari luar kota mana yang alun-alun kota purwodadi, mana yang simpanglima. Dan ternyata sekarang terwujud!

lettersign alun-alun purwodadi
lettersign alun-alun purwodadi

Dan sekarang jadi kepikiran… apa bapak/ibu pejabat baca blog ini ya? hehehe. Ah gak usah GeeR deh. itu pasti karena the power of ndilalah. :)

Tapi btw kalo dipikir-pikir, kata-kata alun-alun Purwodadi itu koq kayaknya terlalu panjang ya? yah maklum ajalah, lha wong kata Purwodadi saja sudah butuh 9 karakter, ya pasti kelihatan panjang. Apalagi kalo ditambah kata didepannya. Pasti jadi makin panjang dong.

Jadi… sudahkah anda foto-foto selfie di depan lettersign di salah satu landmark kota purwodadi yg legendaris ini? Sudahkah di-share di medsos? Hayo mumpung baru berumur seminggu nih. :)