Jalan-jalan malam di alun-alun Wonogiri

Kemarin saya dolan ke Wonogiri dalam rangka ke tempat sodara. Sekilas jika dibandingkan dengan Purwodadi, Wonogiri tampak seperti kota yang lebih besar dan lebih ramai. Apalagi jika dilihat dari infrastruktur kota yang jalannya lebih lebar dan mulus, dan suasana lalu-lalang kendaraan yang ramai melintas di jalan. Tetapi ternyata semua berubah semenjak negara api menyerang ketika malam tiba. Kota yang ramai itu menjadi sepi ketika malam tiba.

Ketika itu baru sekitar jam sembilan malam, namun suasana koq sudah sepi. Oleh karena rasa penasaran saya dan sepupu saya Rino, iseng saja jalan-jalan di sekitar kampung. Dan seperti yang kami duga, suasana benar-benar sepi. Daripada dikira sedang ngapain di kampung orang, mending balik saja ah. :)

Sesampainya di kediaman Om, ternyata ada juga Om Budi dan Pak Bari yang juga penasaran dengan sepinya suasana wonogiri di malam itu. Jadilah kami berempat jalan-jalan malam lihat kota wonogiri kala malam. Dan menakjubkan, walaupun belum terlalu malam suasana kota seperti berubah 180 derajat. Jalan yang ramai ketika siang bisa menjadi sepi dan seperti suwung ditinggal penghuninya. Bahkan pedagang kakilima juga jarang. Ada beberapa yang jualan namun itupun sepi pembeli juga.

Karena bingung mau kemana, akhirnya dipilihlah alun-alun kota wonogiri. Biasanya kan alun-alun itu d arsitektur kota di jawa merupakan pusat kota, dan biasanya pula pusat kota akan ramai tentunya. Dan… sampailah kami di alun-alun Giri Krida Bhakti Wonogiri. Suasananya? Sama. Sepi juga. Sangat jauh berbeda dengan Purwodadi yang masih rame kalo malam, apalagi ketika akhir pekan. Disini hanya tampak beberapa penjual kakilima dan beberapa gerombol orang yang menikmati malam di alun-alun malam itu. Yah daripada nggak ngapa-ngapain nongkrong bentar lah. eh malah Om Budi pesan wedang ronde. Jadilah ngeronde di alun-alun wonogiri. :)

alun-alun wonogiri waktu malamwedang ronde di alun-alun wonogiriNggak banyak yang bisa saya ceritakan untuk jalan-jalan malam di wonogiri. Tapi bisa ditarik kesimpulan kalo wong purwodadi lebih suka jajan kulineran daripada wong wonogiri. Padahal perantau dari wonogiri banyak yang bisnis kulineran di perantauan, dan sukses pula. Agak aneh ya kalo dipikir. atau mungkin karena jago masak jadi nggak perlu lagi jajan diluar. Bagaimana menurut anda?

Cerita tentang nomer

Kalo sekarang beli nomer hape dari provider seluler apapun, pasti hanya dapat SIMcard yang dibungkus kertas alakadarnya dan sedikit plastik bening diluar sebagai segel. Itupun harganya murah sekali, kadang malah lebih murah dari tarif yang ada. Walhasil banyak (sekali lagi BANYAK) orang yang lebih memilih membeli kartu perdana daripada membeli pulsa. Pengiritan dengan memanfaatkan sistem marketing seluler yang membingungkan. Pelanggan lama disuruh bayar lebih mahal daripada pelanggan baru. Ya mending jadi pelanggan baru terus dong. Murah tapi menjengkelkan buat orang lain karena hoby koq ganti nomer. :)

Tapi dulu, waktu pertama kali beli nomer perdana, ceritanya jauh berbeda dengan yang sekarang. Dulu nomer perdana sangat mahal. Saya masih ingat betul nomer perdana dengan harga Rp 75 ribu itu terhitung murah. Padahal pulsanya hanya terisi Rp 25 ribu. Itupun masih murah jika dibandingkan dengan nomer teman-temanku yang harganya diatas Rp 200 ribu, atau bahkan jutaan rupiah kalo mau punya nomer cantik. Jadi perjuangan beli nomer perdanaku dulu itu tentang harga, bukan nomer cantik seperti trend kala itu.

Sekarang coba bandingkan paket starter pack nomer perdanaku (yg ketemu pas bersih-bersih kemarin) dengan starter pack jaman sekarang yang terkesan emyeh-emyeh itu.

starter pack mentari jadul

Lebih niat kan?

Btw berapa sih harga nomer perdanamu dulu? Lebih murah atau lebih mahal dari punya saya?

Forum itu

Kemarin (sudah agak lama, tapi belum lama banget sih) ada yang ngajak-ngajak buat ikut ngaskus karena pengen bisa bikin hot thread. Yaelah.. kemarin kemana aja bro. kayaknya kenal internet sudah lama juga kan. koq baru tau kaskus. Dan sekalian saja tak pameri kalo dulu aku juga sering main forum internet, tapi bukan kaskus. Malahan di forum itu aku dapat jatah jadi momod karena seringnya protes kalo ada spam dan gerombolan pengacau. Dan forum itu adalah forum grobogan[dot]com. Tapi sayangnya forumnya sudah almarhum karena kalah bersaing dengan fesbuk.

forum_groboganDan semua berubah. Kemarin ujug-ujug mak bendunduk ada trefik yang nyamber ke blog gak penting ini dari forum yang sudah almarhum ini. Wah ternyata sudah dihidupkan lagi oleh mas mimin. Btw koq ya gak kabar-kabar apa gimana to mas, kan kalo gak ada yang ngeklik link ke blogku kan aku gak tau.

Adakah yang masih main forum internet sekarang ini? kalo ada forum apa?

Banjir HOAX

Dulu jaman internet belum terlalu populer seperti sekarang ini, jarang sekali saya mendapatkan kiriman berita hoax. Baik dari email, milis maupun forum. Tapi sejak negara api menyerang serbuan gadget yang tiada habisnya dan paket data yang lebih terjangkau dibanding beberapa tahun dulu, serbuan hoax sering sekali masuk. Bukan ke mailbox sih tapi lebih seringnya ke sosial media dan aplikasi chatting.

Padahal kalo mau menahan jempol sedikit dan berpikir sejenak untuk tidak nge-share ulang berita hoax kan enak. Jadi nggak kelihatan bego-bego amat. Dan yang lebih penting tidak menyesatkan orang lain yang sama-sama bego tentunya.

Berdasar ilmu titen yang saya dapat dari jaman dahulu, berikut ini adalah ciri-ciri berita hoax;

  1. Sumbernya tidak jelas. Biasanya menggunakan jargon “katanya”, “info dari teman”, atau kalaupun nyatut suatu instansi atau lembaga, beritanya tidak dapat dikonfirmasi. Makanya saya paling males baca lanjutan tulisan (apalagi sampe ninggal komen) kalo ada yang nulis sumber:google, courtessy:youtube dan semacamnya. Apalagi kalo ditulis sumber dari internet!
  2. Fakta-fakta yang diungkapkan seringkali too good to be true. Terlalu mudah untuk dipercaya. Mirip-mirip omongan sales yang lagi nawarin dagangan. Perlu waktu sejenak untuk berpikir dengan jernih untuk tahu fakta yang diungkapkan itu tak segampang itu.
  3. Ada ajakan untuk menyebar-luaskan. Kadang disertai atas nama kemaslahatan umat, demi masyarakat, untuk kebaikan bersama, dll. Bahkan kadang ada sedikit ancaman bahaya, biar pesan hoax lebih gampang menyebar.

Kalau saja ada dua ciri tersebut dalam satu berita, jempolnya mbok ya tolong direm dulu. Jangan langsung dipercaya (apalagi langsung share kemana-mana), walaupun dikirim oleh orang yang bisa dipercaya. Bukan berarti yang ngirim hoax itu orangnya selalu tidak bisa dipercaya lho ya.. bisa saja lagi khilaf, atau lagi males aja buat nyari konfirmasi benar-tidaknya informasi yang didapat. Atau malah bisa jadi lagi iseng aja njebak temen-temennya siapa lagi nih yang bego kena jebakan betmen. :)

Jadi, sudah berapa banyak hoax yang anda sebar? Kenapa nyebar hoax? Kapok enggak nyebar hoax?

:D