14

Setelah berbulan-bulan (setengah tahun lebih malahan) gak pernah posting (karena bingung juga mau posting apaan), ternyata ada notifikasi yang sudah lebih dari seminggu ngendon di kumpulan notifikasi yang lumayan menggugah niat untuk posting lagi.

Nah ini dia notifikasi yang lumayan bikin niat untuk posting lagi.

14 tahun

Ternyata sudah 14 tahun ngekos gratis di wordpress. Bikin blog yang isinya juga gak karuan gini, entah ada manfaatnya buat orang lain atau tidak. Tapi paling tidak ada manfaatnya buat saya, ada tempat penyaluran iseng-iseng aja. Karena kebetulan sudah gak aktif di medsos dan forum (duh jaman kapan ini), blog bisa jadi tempat yang paling enak buat posting iseng semacam itu.

PR selanjutnya adalah posting berikutnya mau posting apaan ya? Ah, besok aja mikirnya. Yang penting posting ini dulu. Perkara posting blog aja koq kayak mikirin negara aja… :)

Mencegah Kaki Gajah

Kemarin ada tetangga yang membagi-bagikan paket obat yang katanya dari program pemerintah Pemberian Obat Pencegahan Masal untuk pencegahan penyakit kaki gajah/filariasis (bukan filariabro). Problemnya karena saya termasuk orang yang kena kutukan susah menelan obat baik yang berbentuk pil atau tablet (yang ini tablet obat ya, bukan tablet pc), jadi agak gimana… karena ternyata obatnya berjumlah 4 butir, terdiri dari 1 butir albendazol dan 3 butir DEC (diethylcarbamazine citrate). Waduh alamat bakal kembung nih, butuh berapa gelas air buat ndorong obat tu semua? hmmm…

paket obat pencegh kaki gajah

Coba nanya-nanya dulu ah, siapa tahu dosisinya untuk berapa kali makan. :D

Setelah nyari-nyari info baik dari temen yang memang berkompeten di bidangnya dan situs-situs yang bisa dipertanggung-jawabkan, didapatkanlah bahwa paket obat yang kemarin itu untuk sekali minum. Hadeh..

Ya wis. Selamat makan… eh… selamat minum… eh… selamat berjuang! Demi kaki manusia agar tak berubah menjadi kaki gajah!

Tiga belas

Hari ini ada pemberitahuan yang menarik di aplikasi WordPress tercinta. Bukan karena ada yang njempoli postingan secara membabi-buta, bukan pula karena di-follow sama bloger luar negeri yang cuma kerjaannya follow dan njempoli postingan doang. :)

Tiga belas tahun

Ternyata sudah 13 tahun ngeblog suka-suka dengan platform wordpress gratisan. Entah suatu hal yang patut disyukuri atau justru malah patut dikasihani. Numpang ngeblog gratisan koq sampe belasan tahun. Pake bangga pula. Hahahaha….

Jadi…. Makan-makan….

Tapi di rumah masing-masing ya… Ingat, social distancing. Hahaha.

Berbuka dengan mie ayam

Gara-gara ada teman yang pasang status dengan gambar mie ayam, saya jadi teringat dengan kejadian jaman dulu. Terus terang sudah lupa tahun berapa, yang jelas awal-awal milenium.

Dulu waktu itu bulan puasa juga, sama seperti saat ini. Kami rame-rame dolan ke rumah teman dengan menggunakan 4 motor. Setelah sore baliklah kami ke kost. Dengan perkiraan akan nyampe kost sebentar sebelum adzan Maghrib tiba.

Tapi semua meleset. Di tengah jalan hujan deras mengguyur. Dan karena tidak semua bawa jas hujan maka dengan semangat solidaritas kita rame-rame nongkrong nunggu hujan reda di emper toko yang sedang tutup.

Tunggu punya tunggu, hujan tidak tampak akan mereda. Dan sialnya lagi jaman segitu belum ada yang punya hape (waktu itu hape masih monokrom-monoponik, mahal pula, jadinya gak setiap orang pegang hape seperti sekarang), mana gak ada yang bawa jam tangan pula. Jadi tidak ada yang tahu jam berapa saat itu, dan masih berapa lama waktu berbuka puasa tiba.

Setelah celingukan ternyata tidak jauh dari tempat kami berteduh itu ada warung mie ayam yang buka. Jadilah kami sepakat untuk menyerbu warung mie ayam itu.

Mie ayam

Setelah pesan dan mie ayam pesanan kami terhidang di depan mata, ada masalah besar yang harus diselesaikan. Tidak ada yang tau kapan adzan Maghrib tiba. Sambil celingak-celinguk akhirnya ada salah satu yang menanyakan kepada bapak pemilik warung, dan sialnya di warung itu tidak ada jam. Tapi si bapak bilang kalo sebentar lagi koq mas. Paling beberapa menit lagi sudah waktunya buka.

Jadilah kami menunggu dengan sabar dan sambil ngobrol dan bercanda, mumpung hanya kami saja pembeli waktu itu, siapa pula orang yang mau keluar di waktu hujan deras di sore hari waktu puasa.

Tiba-tiba bapak pemilik warung mengatakan kalo sudah Maghrib. Dalam hati kami sempat bimbang, dari mana dia tahu padahal belum ada suara adzan, dan tidak ada jam atau penunjuk waktu lainnya. Tapi dengan santainya si bapak menunjuk ke seberang jalan dan bilang itu lho mas, rumah depan sudah pada makan, di rumah itu kan pasti punya jam dan nonton TV. Okelah, masuk akal, nunggu apa lagi mari makan….

Seperti berlomba saja kami menyantap mie ayam yang ada di depan kami. Hujan deras, udara terasa lebih dingin karena badan sedikit basah terkena air hujan, ditambah perut kosong karena memang semua sedang puasa. Jadilah kami makan dengan lahapnya.

Ketika semua sudah hampir menghabiskan satu porsi mie ayam itu, terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Terdengar suara adzan entah dari mana, yang jelas suaranya terdengar jelas. Langsung kami berhenti makan dan saling toleh kanan kiri. Dan seperti dikomando kami semua tertawa terbahak-bahak menyadari hal itu. Tidak itu saja, dengan kompak kami menoleh ke arah bapak pemilik warung yang ternyata sedang senyum-senyum bingung. Melihat itu pun kami semua tertawa terbahak-bahak lagi. Dan entah merasa bersalah atau bagaimana si bapak kemudian melipir ke belakang warung.

Yah mau gimana lagi, lanjut saja acara makan bersama itu. Sudah kepalang tanggung. Hajar saja. 😄

Setelah hujan agak mereda, kami nekat melanjutkan perjalanan pulang ke kost. Dan si bapak tampak serba salah. Tapi kami cuek saja, ya mau gimana lagi. Sudah terlanjur. Dinikmati saja. 😃

Itu sedikit memori dengan teman-teman jaman belum semua orang pegang hape. Entah kenapa ingatan itu muncul kembali. Mungkin ada yang kangen ketemu teman-teman lama. Semoga kapan-kapan bisa ketemu lagi, dan berasik-asik lagi.