Naik kuda keliling kota

Tadi sore mumpung cuaca mendukung pit-pitan ah mubeng kutha. Dan untuk kali ini ada sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang sangat tidak biasa. Saya disalip orang yang naik kuda. Kalo disalip emak-emak naik motor metik sih sering, disalip motor gede juga sudah biasa, apalagi mobil dan kendaraan lainnya. πŸ˜€

Naik kuda keliling kota

Awalnya saya mengira suara keteplak-keteplok ini suara kuda yang menarik andong, namun setelah dia melewati saya barulah terlihat hanya seekor kuda yang dinaiki tuannya keliling kota. Mungkin juga lagi cari angin seperti saya, mumpung cuaca lagi mendukung.

Kapan lagi ketemu orang naik kuda keliling kota Purwodadi? Mungkin pas karnaval saja kan. Jepret saja. Tapi koq lumayan cepet ya jalannya. Untung saja masih sempat. 😊

A Kasoem

Dulu ketika masih jaman yellow pages, di area Purwodadi (kode area 0292) selalu diawali dengan nomer dari A. Kasoem optical baru kemudian diikuti nomer-nomer lainnya. Dan yang paling akhir selalu nama Zimmamuzurzen (lupa ejaannya seperti apa).

A Kasoem optical

A Kasoem optical ini bisa jadi salah satu landmark di Purwodadi kalo dipikir-pikir. Toko kacamata ini termasuk yang paling lama, baru diikuti optik lainnya. (Saya nggak tahu optik tertua di Purwodadi Grobogan, tapi setahu saya dari jaman presiden masih pak Harto optik A. Kasoem sudah ada di Purwodadi.) Lokasinya di komplek pertokoan Kencana, pas disamping pintu masuk ke bioskop kencana. (Jadi inget nih jaman nonton Brama Kumbara naik rajawali sakti di bioskop kencana hehehe).

Dan diawali dengan rasa iseng, saya gugling saja apa sih kepanjangan dari huruf A pada A. Kasoem optical ini. Jangan-jangan huruf A itu singkatan dari Arief. 😁

Dan ternyata… Jeng jeng

Huruf A itu singkatan dari Atjoem Kasoem. Seorang lejen ternyata. Atjoem Kasoem ini adalah orang Indonesia pertama yang punya toko optik di Indonesia setelah sebelumnya bekerja dan menjadi asisten di optik milik Kurt Schlosser. Info lengkap silahkan saja buka Wikipedia dan blog-blog yang sudah menuliskan kisah hidupnya. Jangan manja, biar kuota internet nggak cuma dipake buat nge-share hoax saja hehehe. Paling tidak, salah satu misteri abad ini sudah terpecahkan. πŸ˜€πŸ˜€

Nah pertanyaannya sekarang adalah apakah hubungan antara A Kasoem optical dengan tokoh lejen Atjoem Kasoem ini. Saya nggak tahu. Silahkan cari tahu sendiri ya. 😁

Pujapura

Ada masanya dimana kota Purwodadi Grobogan ini memiliki sebuah lokasi yang menjadi pusat jajanan, baik makanan ringan maupun makanan berat tapi jangan tanya berapa kilo ya. Nama lokasinya adalah PUJAPURA. Kalo gak salah itu singkatan dari Pusat Jajanan Purwodadi (gak terlalu yakin dengan singkatan ini, kalo ada yang ingat singkatan ini mohon tinggalkan komentar dibawah, bukan jebakan umur lho). Semacam pujasera tapi khusus untuk area Purwodadi.

Dulu ada 2 lokasinya, yang kebetulan berada di tanah milik PJKA (sekarang jadi PT KAI) di lokasi yang dikenal dengan sebutan rel bengkong. Lokasi pertama berada di tikungan rel dari selatan menuju ke stasiun Purwodadi, yang sampai sekarang namanya masih dikenal dengan nama PUJAPURA. Lokasi kedua berada rel bengkong juga, pas rel menikung dari stasiun Purwodadi menuju ke jurusan ke Utara. Persisnya diarea dekat Tugu pahlawan. Sekarang sudah menjadi area ruko kencana dan taman kota, sudah tidak lagi dikenal sebagai pujapura seperti dulu (lupa lokasi yang ini dulunya dikenal dengan pujapura 1 atau pujapura 2). Jadi kalau ada yang menyebut nama pujapura maka tempat yang dimaksud adalah tempat yang pertama.

Entah bagaimana ceritanya, pusat jajanan itu sekarang menjadi pusat handphone. Tapi yang jelas sih orang Purwodadi gak menjadikan smartphone sebagai jajanan lho ya. πŸ˜€

PUJAPURA phone market
PUJAPURA phone market

Sekarang ini sepertinya sedang dibangun juga lokasi untuk pusat kuliner di Purwodadi, yang kebetulan lokasinya di dekat pujapura ini, di area yang dulunya dikenal dengan nama koplak dokar, tempat parkir dokar, yang seiring berjalannya waktu semakin tersisih oleh moda transportasi yang lebih modern. Entah kapan mulai dibukanya tempat kulineran itu, kayaknya tempatnya sudah hampir selesai.

Di dekat Taman Hijau Kota Purwodadi juga katanya akan dibangun pusat kuliner. Saat ini sih lokasinya sudah dibersihkan dan diurug dan diratakan. Entah kapan mulai digarap.

Yang pasti semoga nanti kalo kota Purwodadi sudah punya pusat kuliner gak bisa jadi jujugan warga buat kulineran dan tidak beralih fungsi seperti nasib pujapura ya… Masak pusat jajanan koq isinya jualan handphone, emangnya wong Purwodadi ngemil handphone? Ngeri thok yes. Hehehehe. πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜…

Bocor… Bocor… Bocor…

Entah kesekian kalinya saya mengalami kejadian ban bocor. Dan kemarin untung saja pas ban bocor dekat dengan kios tambal ban, dan cuma bocor 1 lubang saja jadi cukup ditambal saja tidak perlu beli ban baru .

Dari sekian kali nambal ban bocor, baru kali ini saya bertemu dengan kios tambal ban yang menggunakan alat penambal ban dengan model listrik. Bukan model menggunakan pemanas dari spiritus yang dibakar. Mungkin cara kerjanya seperti setrika atau kompor listrik.

Tambal ban

Apakah selesai disini ceritanya? Tentu tidak.

Sambil nunggu tambalan ban-nya mateng, saya jepret saja alat penambal ban elektrik ini. Tapi, tunggu punya tunggu… Koq sudah 15menit ini ban koq gak ndahndeh ya. Apa mungkin ban ini sakti?

Setelah dicek dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ternyata listrik masih nyala normal. Lampu kios masih nyala kalo diceklekkan (apa ya istilah yang baik dan benar untuk diceklekkan). Berarti kabelnya. Dan benar sambungan kabelnya ada yang suloyo.

Setelah dibenerin kabel dan ubo-rampenya, proses tambal ban berjalan dengan mulus. Cuma butuh waktu beberapa menit, malah lebih singkat waktunya jika dibandingkan dengan proses troubleshooting dan bingungnya mas tukang tambal ban pas mengetahui alatnya tidak bekerja dengan baik. 😁

Mungkin ini yang dikatakan peralatan yang lebih modern belum tentu lebih keren dan lebih oke dibandingkan dengan alat manual.

**ini ceritaku tentang nambal ban bocor, bagaimana ceritamu?

Baru tapi langka

Entah perasaan saya saja atau jangan-jangan memang beneran uang 1000 rupiah bergambar Cut Meutia dan bagian belakang ada gambar Tari Tifa, Pemandangan alam Banda Neira dan Bunga Anggrek Larat ini jarang beredar ya?

Uang seribu rupiah bergambar Cut Meutia
Uang seribu rupiah bergambar Cut Meutia

Terus terang selama ini saya baru 2 kali mendapat uang 1000 rupiah kertas bergambar Cut Meutia ini. Biasanya sih uang kertas 1000 rupiah bergambar Pattimura, atau malah uang koin, baik uang koin bernilai 1000an atau (yang paling sering) 2 buah gopekan.

Dua lembar uang seribu rupiah itu saya dapat koq ya ndilalah pas dapat berurusan dengan kereta api. Yang pertama pas bayar parkir dan dikasih susuk seribuan itu, dan yang satunya pas beli teh anget di dalam gerbong KA Menoreh dan ada seribuan bergambar Cut Meutia nyelip disitu.

Mungkin jodoh duit seribuan ini memang dengan PT KAI ya? 😁

**seberapa sering anda dapat uang seribu rupiah bergambar Cut Meutia ini?