Pemburu layang-layang putus

Kemarin ada segerombolan anak kecil berlari sambil sesekali matanya melihat keatas. Karena penasaran saya juga ikutan menengok keatas. Ternyata ada layang-layang putus dan anak-anak itu berlari mengejarnya. Suatu pemandangan yang agak luar biasa di jaman ini. Anak-anak yang berlomba mengejar layangan putus karena kalah gelasan.

Dulu waktu saya seumuran mereka kegiatan ngoyak layangan pedhot (mengejar layang-layang putus) sudah bukan hal yang istimewa. Walaupun seringkali dibilang kegiatan tanpa guna karena hanya mengejar hal yang sepele dan belum tentu dapat, tapi tetap saja banyak yang melakukannya. Prinsipnya bukan hasilnya yang berupa hanya sebuah (atau selembar) layangan tetapi mengalahkan banyak orang adu larinya itu yang bikin seru. :D

Walaupun masih tetap berlanjut sampai sekarang kegiatan ngoyak layangan pedhot ini sudah berbeda jauh dengan jaman saya kecil dulu. Berikut ini perbedaan ritual ngoyak layangan pedhot jaman dulu dan jaman sekarang:

  • Dari medan perang perebutan layangan saja beda, dulu masih banyak sawah sekarang sawahnya jadi perkampungan.
  • Karena medan perangnya sawah tentunya caranya mengejar otomatis yang masih masuk akal ya cuma lari, kalau sekarang sih karena lokasinya sudah jadi perkampungan, selain lari bisa juga pakai sepeda. :)
  • Para pengejar layangan jaman dulu selain berlari juga membawa galah panjang dan ujungnya yang bercabang-cabang. Maksudnya sih biar gampang nyaut benang nglewer dari layangan putus itu. Jaman sekarang sih ribet bawa galah panjang-panjang. Mengurangi kemampuan manuver di gang kecil. :D
  • Jaman dulu pengejar layangan kebanyakan tanpa alas kaki (nyeker). Kalaupun bawa sandal japit sih biasanya ditaruh (gimana ya nulisnya) di siku, jadi mirip pelindung siku. Sekarang sih jarang ada yang melakukan itu. :D
  • Last, bagian serunya… Dulu kalau pas ada kemelut di medan perebutan layangan –halah– seringkali para pengejar yang berada di barisan belakang (yang kemungkinan berhasil mendapat layangan semakin kecil) melakukan trik curang, yaitu menjadi provokator dengan berteriak “TOWOK! TOWOK!! TOWOK!!!”. Maksudnya biar layangan putus itu ditowok (ditusuk atau sekalian dirobek rame-rame), jadi tidak ada yang mendapatkannya. Dan hal ini sepertinya sudah mulai hilang (atau hanya saya yang jarang menemuinya lagi).

adakah perbedaan lainnya? kayaknya ada yang terlewat nih. :D

 

Iklan

Penulis: q.thrynx

aku bukan siapa-siapa :)

5 thoughts on “Pemburu layang-layang putus”

jangan ada SPAM diantara kita ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s