Kalah GAOEL

Kemarin di sebuah toko dengan judul toko serba ada. Seperti biasa rame orang yang lagi kulakan. Wah salah timing nih. Bisa lama nih nunggunya. :|

Sambil nunggu, saya perhatikan cara mbak-mbak pramuniaga berkomunikasi dengan pelanggan, koq mereka selalu terkesan agak formil. Entah karena memang seperti itu aturannya atau gimana.

Dan karena waktu itu toko sedang rame, si Mamah yang dari tadi duduk di singgasana di belakang meja kasir sampai merasa harus ikut turun tangan. Sembari tersenyum si Mamah bertanya;

Mau nyari apa bro?

Dan semua yang antri langsung ikutan senyum-senyum. Wah mbak-mbak pramuniaga kalah gaoel nih. :D

Tangkapan pagi ini

Sudah beberapa hari terakhir sering kali terdengar suara uwok-uwok-uwok yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Awalnya saya kira suara itu berasal dari suara kodok tapi koq gak ada suara kung-kang-kung yang biasanya, jadi sepertinya bukan. Setelah beberapa lama penasaran dan kebrebeg’en, akhirnya ketemu juga sumber suara tersebut. Sepertinya berasal dari burung Srimbombok yang entah berasal dari mana, dan entah kenapa bisa nyasar kesini.

Seumur-umur baru kali ini saya tahu namanya burung Srimbombok. Mohon maklum saja, dulu bukan termasuk anak yang hobinya berburu burung dengan bersenjatakan plintheng sih. :)

Dan pagi ini, lihat saja… Apa yang berhasil ditangkap si Bundel. Ya, burung Srimbombok yang sudah beberapa hari ini ber-uwokuwok-ria di sekitar rumah.

Sepertinya nanti gak ada lagi suara uwok-uwok-uwok yang terdengar dengan nada dan suasana mistis itu.

Tempat nongkrong baru di jalan R Suprapto

Kemarin sempat posting tentang bola-bola beton yang dipasang di trotoar jalan R Suprapto, dan sempat pula curiga dengan jarak yang cukup berjauhan, sekarang sudah ketemu jawabannya.

Bangku di trotoar jalan R Suprapto

Yapz… Ternyata jarak bola beton yang berjauhan memang disengaja, dan sudah dirancang untuk berjauhan. Alasannya adalah tempat untuk bangku-bangku tersebut.

Sekarang kalo sore atau malam banyak yang nongkrong di trotoar. Baik cuma ngumpul sambil ngerumpi, nunggu tukang ojek onlen atau malah foto-foto buat apalagi kalo bukan diaplot ke sosmed. Mumpung masih baru, masih happening. Malah kalo siang masih ada pak tukang yang ngrampungi gawe. 😁

Jadi buat cah Purwodadi jaman now, sudah pernah nongkrong disitu belum? 😁

Pusat kuliner Purwodadi

Akhirnya di penghujung bulan November kemarin kota Purwodadi kembali memiliki daerah yang bisa jadi jujugan orang-orang yang hobinya memanjakan lidah dan perutnya, yaitu dengan diresmikannya PUSAT KULINER PURWODADI.

Pusat kuliner Purwodadi

Lokasinya tak jauh dari Pujapura, hanya terpisah jalan di area barat Pujapura yang sudah kadung terkenal itu. Kalo orang asli Purwodadi pasti paham, apalagi jika disebutkan area koplak dokar yang dulunya terkenal kumuh dan sempat dikenal sebagai tempat mangkalnya psk. Jadi pasti gampang menemukan tempat kulineran yang satu ini, gak bakal nyasar deh.

Kelihatannya selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan kuliner Purwodadi. Mungkin karena masih baru, masih gress. Masih ada plastiknya. Walaupun pedagangnya juga orang-orang lama, yaitu pedagang kaki lima yang sebelumnya mangkal di sepanjang jalan R Suprapto, bunderan Simpang Lima dan sekitarnya. Ngikut penataan kota yang sudah dibuat oleh pemerintah kabupaten Grobogan.

Semoga saja tetap ramai dikunjungi penikmat kuliner dan bisa menjadi jujugan orang-orang yang memang hobi kulineran, serta tidak ikut bernasib sama dengan pujapura yang akhirnya berevolusi menjadi pusat counter handphone.

Harta Karun

Kemarin bersih-bersih gudang rumah dan tanpa sengaja nemu barang yang dulu sangat hits pada jamannya. Barang yang bisa bikin orang yang bawa jadi terlihat makin keren. 😊

Yak… Sony walkman jadul yang legendaris itu. Suatu piranti elektronik yang sempat merevolusi gaya orang dalam mendengarkan musik. Setelah sebelumnya orang merasa keren kalo ngumpul sambil dengerin musik pake boom box atau paling nggak minicompo (yang ukurannya juga nggak mini), lalu bergeser ke pemutar kaset musik yang berukuran beneran mini. Dan asyiknya perangkat yang ini gak bakal dimarahi orang karena berisik, lha wong ndengerinnya saja pake earphone. Jadi kalo pake volume pol gede, ya paling yang kena ya kuping yang pake earphone (dan orang disebelahnya). Pokoke resiko di kuping sendiri lah. 😁

Btw dulu jaman eSDe karena sekolahnya dulu bilingual school yang nggak mengenal bahasa Inggris, hanya bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, ada teman yang dulu selalu menyebut perangkat ini dengan Sony Welkom. Sudah dikasih tahu kalo welkom (dari kata welcome) itu artinya “selamat datang”, masih saja ngeyel. Tapi ya karepmu lah… Sak bahagiamu, kalo menurut anak jaman now.

Selamat pagi, masihkah ada yang kemana-mana bawa walkman buat dengerin lagu dari kaset? Pasti terlihat keren. 😁