Sing penting BEJO

Prapatan Bejo adalah salah satu dari sekian banyak landmark di Purwodadi yang sepertinya semua orang Purwodadi mengenalnya. Apalagi bagi yang sering nglajo soko ndeso. Disebut begitu karena dulunya di salah satu sudut perempatan ada toko Bejo. Mengapa saya katakan “dulunya” karena sekarang toko di pojokan itu sekarang bukanlah toko Bejo seperti yang orang-orang Purwodadi kenal selama ini. Sekarang sudah berubah menjadi kantor KSP.

prapatan_bejoLokasinya sih ada di dekat bekas terminal lama dan klenteng Hok An Bio. Trus bagaimana dengan sebutan Prapatan Bejo? Apakah berubah juga menjadi Prapatan KSP? Nggak juga. Orang-orang masih mengenalnya sebagai Prapatan Bejo.  Kalau kata iklan dulu sih, “Sudah tradisi”. :D

Lagipula apalah sebuah nama. Sing penting Bejo. Yo rak? :)

Kredit tanpa kartu, langsung di pintu

Konon katanya dulu ada seorang bule di negeri barat sana, yang makan di restoran mahal dan lupa bawa dompet. Walhasil dia terpaksa nyuci piring dan mangkok terpikir untuk membuat suatu sistem bagaimana caranya bisa makan gratis tanpa bawa uang tunai. Dengan kata lain ngutang sih. :)

Lalu terciptalah sistem yang membuat orang bisa makan dulu lalu bayar kemudian (alias ngutang dulu) namun dengan satu syarat dia harus punya rekening koran di bank. Sistem ini kemudian berkembang dan dikenal dengan nama kartu kredit. Dan dengan kekuatan sang bulan globalisasi dan kapitalisasi, sistem ini menyebar luas ke seluruh penjuru dunia. Dan sekarang fungsinyapun tidak hanya untuk ngutang makan di restoran saja, tapi juga untuk beli macam-macam benda lainnya.

Jauh di timur (di tanah jawa ini) ada juga kreasi  orang-orang untuk membeli barang namun karena keterbatasan dana pengennya ngutang dulu. Dan kreatifitas orang kita jauh lebih spektakuler. Tanpa harus punya rekening koran di bank. Tanpa jaminan macem-macem, bahkan barang dianter sampe depan pintu pula. Nyicilnyapun dijemput, gak perlu repot. Suatu kebijakan lokal yang patut dihargai nih. Local genius. Lanjutkan membaca Kredit tanpa kartu, langsung di pintu

Bagaimana cara makan Mie Ayam?

Saya termasuk orang yang suka mie ayam. Kalo pas njajan di tempat yang jualan mie ayam dan bakso hampir dipastikan saya selalu pesan mie ayam. Bukan apa-apa sih, soal selera saja.

mie ayam rudal perut
mie ayam rudal perut

Dan ada beberapa versi mie ayam yang beredar *halah* di sekitar saya. Dari yang Mie ayam disajikan langsung dalam satu mangkok, seperti mie ayam yang biasa itu. Ada juga yang plus ceker (tapi disediakan di tempat terpisah). Ada juga yang disajikan dengan model yang mie dan kuahnya dipisah tapi jangan jauh-jauh, ntar kangen.

mie_ayam_pangsit_pakdhe

Nah BIG PROBLEM ketika dapat mie ayam yang disajikan dengan kuah terpisah itu adalah cara makannya.

Kenapa pula kuah sama mie-nya itu dipisah? Apa gak kasihan ? Kan jadi kangen…

Katanya sih biar enak cara dan lebih njuragani, mie ayam jenis ini memang dimakan tanpa kuah yang banyak. Cukup beberapa sendok saja kuahnya untuk dicampur ke mie, biar gampang nyampur dengan uborampe lainnya. Terakhir, baru kuah sisanya disruput same habis. Ribet juga ya. Ini acara makan apa upacara sih, koq aturannya detil banget.

Tapi kalo saya sih… campur saja semua dari awal. Nggak njuragani juga biar. Toh pada akhirnya semuanya juga ngumpul dan nyampur di dalam perut. Selama yang makan nggak protes kenapa harus jadi masalah? :)

Bagaimana dengan anda?

Selamat makan mie ayam. Beli dan makan sendiri tentunya. Gak harus saya temani kan? :D

Sewindu

sewinduAchievment unlocked!! :)

Dan kemudian baca-baca lagi postingan jadul dari tahun-tahun awal ngeblog di wp. Dan SYOK! Duh… Koq bisa ya nulis gitu. Jadi malu…

Untung saja blog pertama yang nangkring di blogspot sudah di privat. :D