Cepat dan lambat

Kemarin baru saja ada coblosan. Momen dimana orang-orang bisa mencoblos caleg sesuai dengan udelnya aspirasi masing-masing. Dan sesuai tradisi abad 21 di negeri ini, setelah coblosan maka hitung cepat dari beberapa lembaga survey yang kemudian akan nongol di tv. Menjadi menarik ketika proses hitung cepat ini berjalan dengan waktu yang hanya beberapa jam saja TPS yang tutup warung sudah dapat diperkirakan siapa saja yang menang dan menangis –cocok dengan namanya yang Hitung Cepat– walaupun untuk resminya mesti nunggu beberapa hari (minggu) lagi untuk mengetahui pengumuman dari KPU.

Yang menjadi pikiran saya, bagaimana bisa jarak waktu antara hitung cepat dan perhitungan resmi ini bisa berjarak dengan hitungan hari atau bahkan minggu. Memang sih dalam survey hitung cepat itu hanya mengambil sample dari beberapa populasi. Tapi kan KPU yang memang spesialisasinya dalam pengadaan event coblosan dari pemilihan kepala daerah, anggota legislatif dan presiden-wapres semestinya bisa nyontek-nyontek dikitlah kinerja lembaga survey dalam bekerja. Biar jarak waktunya tidak selama ini.

Saya memang tidak tahu bagaimana proses perhitungan resmi dilapangan. Jadi tidak tahu dimana letak kekurangan sistem perhitungan resmi KPU yang sekarang ini. Mungkin ada yang mau share bagaimana sih sistem perhitungannya bekerja di lapangan? atau malah mungkin ada usul sekalian gimana caranya biar lebih cepat. :D

Baliho Galau

Entah apa maksud dari pemasang iklan ini. Sepertinya pemasang iklan di baliho ini adalah orang yang sama dengan pemasang iklan SOPO IKI yang dahulu sempat membuat banyak orang penasaran itu –termasuk saya–, walaupun akhirnya ketahuan itu baliho seorang caleg. :)

Dan kini kisah baliho itu ternyata masih berlanjut. Masih sedikit misterius, tapi sepertinya masyarakat sudah paham wajah siapa yang nampang di baliho itu.

1_duhDek

baliho di Jl. A. Yani Purwodadi

2_duhDek

baliho di bundaran Simpanglima Purwodadi

Tapi caleg ini tetap berhasil membuat saya penasaran dengan apa maksud baliho itu. Kenapa caleg itu memajang kata-kata galau seperti “#duhDek…. aku kudu piye?” itu ya? Mungkinkah ini strategi agar lolos dari razia panwaslu? Atau malah curcol galau karena spanduknya yang dulu diturunin panwaslu? Mungkin nantinya kalo baliho ini juga diturunin panwaslu, akan muncul lagi iklan dengan hestek #AkuRapopo. :D

Jadi kepikiran.. kalo saja dulu caleg ini lebih melek internet, bikin website buat jualan promosi diri, dengan memajang track recordnya, visi misi, dll. Trus pasang iklan di baliho dengan majang alamat website propagandanya, atau malah biar lebih misterius bisa pasang kode QR-nya. Kan kesannya lebih canggih dan caleg yang ekstra ordinary tidak biasa-biasa saja gitu, walaupun nggak ada jaminan pasti bakal kepilih juga sih. Tapi pemilu kari sak nil-an ngene, dadine usule ra kanggo. Kudune mulai taun wingi wis mulai. :D

trus kira-kira caleg iki kudu piye jal? :)

Ribet

Kemarin saya lihat cara seorang teman ketika berselancar di dunia maya. Agak gimana gitu caranya. Ketika akan membuka email di Yahoo! entah kenapa yang dia menggunakan cara yang menurut saya agak ribet. Pertama setelah membuka web browser dia membuka google dulu. Lalu menulis kata yahoo di kotak pencarian, baru kemudian membuka situs Yahoo! dari hasil pencarian. What a long and winding road ineffective methode for me.

Iseng saja aku tanya kenapa tidak langsung saja menuliskan alamat mail.yahoo.com saja? Bukankah lebih cepat dan nggak ribet? Atau kenapa tidak memanfaatkan fitur bookmark sekalian saja. Biar tinggal klak-klik saja.

Dan jawaban yang saya dapati sangat mengagetkan, yaitu; Wah ribet bro. Kakehan sing diapalke. Penak ngene wae. wis biasa. Dan saya hanya bisa senyum-senyum mendengar jawaban dari dia.

sebenarnya cara mana sih yang lebih ribet?