Baliho Galau

Entah apa maksud dari pemasang iklan ini. Sepertinya pemasang iklan di baliho ini adalah orang yang sama dengan pemasang iklan SOPO IKI yang dahulu sempat membuat banyak orang penasaran itu –termasuk saya–, walaupun akhirnya ketahuan itu baliho seorang caleg. :)

Dan kini kisah baliho itu ternyata masih berlanjut. Masih sedikit misterius, tapi sepertinya masyarakat sudah paham wajah siapa yang nampang di baliho itu.

1_duhDek

baliho di Jl. A. Yani Purwodadi

2_duhDek

baliho di bundaran Simpanglima Purwodadi

Tapi caleg ini tetap berhasil membuat saya penasaran dengan apa maksud baliho itu. Kenapa caleg itu memajang kata-kata galau seperti “#duhDek…. aku kudu piye?” itu ya? Mungkinkah ini strategi agar lolos dari razia panwaslu? Atau malah curcol galau karena spanduknya yang dulu diturunin panwaslu? Mungkin nantinya kalo baliho ini juga diturunin panwaslu, akan muncul lagi iklan dengan hestek #AkuRapopo. :D

Jadi kepikiran.. kalo saja dulu caleg ini lebih melek internet, bikin website buat jualan promosi diri, dengan memajang track recordnya, visi misi, dll. Trus pasang iklan di baliho dengan majang alamat website propagandanya, atau malah biar lebih misterius bisa pasang kode QR-nya. Kan kesannya lebih canggih dan caleg yang ekstra ordinary tidak biasa-biasa saja gitu, walaupun nggak ada jaminan pasti bakal kepilih juga sih. Tapi pemilu kari sak nil-an ngene, dadine usule ra kanggo. Kudune mulai taun wingi wis mulai. :D

trus kira-kira caleg iki kudu piye jal? :)

Beware of stranger

Orang Indonesia terkenal sebagai orang-orang yang ramah bahkan kepada orang asing sekalipun. Suatu hal yang sebenarnya menjadi nilai plus dan kebanggaan dari bangsa ini.

Namun seperti pedang bermata dua keramahan kita itu juga merupakan suatu bahaya. Karena dengan ramah pada orang lain (bahkan orang yang belum kenal sekalipun), kita juga berpotensi bahaya. Salah satunya adalah menjadi sasaran tindak penipuan.

Entah sudah berapa banyak korban yang jatuh tertimpa tangga terkait tindakan penipuan orang tak dikenal ini, namun karena di beberapa tempat strategis di Purwodadi menampilkan pesan dari Polsek Purwodadi yang berisi himbauan agar jangan percaya dengan orang yang baru dikenal karena banyak penipuan. biasanya kalo pihak berwenang sudah bikin woro-woro gini berarti kasusnya sudah banyak ya? :(

beware_of_stranger_1beware_of_stranger_2Mungkin sudah saatnya diajarkan kepada anak-anak semenjak dini untuk waspada kepada orang yang belum dikenalnya, seperti di film-film luar itu. Beware of stranger-lah kerennya. Tapi kalo bisa jangan sampe menjurus don’t talk to stranger sekalian ya… Bisa hilang identitas bangsa kita sebagai bangsa yang ramah. Cukup waspada saja. Karena ingat kata bang napi… Kejahatan tidak terjadi hanya niat dari pelakunya, namun juga karena karena adanya kesempatan. Maka waspadalah… Waspadalah!! tapi gimana cara ngajari orang agar waspada pada orang asing ya? adakah yang punya usul?

sepertinya menarik juga kalo isi spanduk itu dikaitkan dengan pemilu yang sebentar lagi digelar. :D
tapi ngeri ah nulisnya :D

Laperpool – You’ll Never Eat Alone

Beginilah kalau seorang penggemar sepak bola (entah liverpudlian atau tidak) membuka usaha kuliner. Biarpun warung tenda tetep masih kelihatan penggemar bolanya. Dengan warna merah terang dan nama yang sekilas mirip dengan klub sepakbola Liverpool masih ditambah dengan jargon yang mirip pula. Bila Liverpool terkenal dengan jargon You’ll never Walk Alone, di warung kerang Laperpool – You’ll Never Eat Alone. :)

Laperpool - You'll Never Eat Alone

Laperpool – You’ll Never Eat Alone

Btw tentang you’ll never eat alone ni maksudnya gimana ya? Tidak akan makan sendiri? Trus harus rame-rame gitu? atau malah sepiring berdua, bertiga atau malah rombongan? *halah*

jadi pengen tahu warung ala arsenal, chelsea, MU, Man City, dll. :D

Pasar burung Purwodadi

Jaman dulu kalo asyik bersepeda ria keliling simpanglima waktu sore hari, siap-siaplah menahan napas di salah satu bagian jalur lambat di bundaran simpanglima purwodadi. Bukan karena apa-apa, hanya saja dulu di salah satu bagian jalur lambat bagian timur itu terdapat banyak pedagang burung yang menawarkan dagangannya (burung dan makanannya) jadi mirip pasar burung tapi ditengah jalan. :)

Untungnya kemudian pemkab memindah para pedagang ke Jl. Thamrin (sebelah utara GOR Simpanglima) yang tidak jauh dari tempatnya semula. Jadi bunderan simpanglima kini bebas dari bau kotoran burung yang seger-seger-gimana gitu. Tapi gantian yang olahraga (main tenis dan bola voli) dibelakang GOR itu yang slentang-slenting bau kotoran burung. :D

pasar burung jalan Thamrin Purwodadi

pasar burung jalan Thamrin Purwodadi

Tapi pasar burung itu sekarang sepertinya berkembang pesat ya? Tambah banyak saja deretan pedagangnya. Kalo nggak salah dulu jumlah pedagangnya nggak sebanyak sekarang. Mungkin pertanda bagus. Perekonomian berkembang. Pasarnyapun berkembang. Problemnya sekarang adalah dengan berkembangnya pasar burung yang makin rame maka Jl. Thamrin yang tidak seberapa lebarnya itu jadi kemruyuk rame banget, apalagi kalo ada mobil yang parkir, walaupun tidak sampai terjadi kemacetan (mosok purwodadi macet – apa kata dunia?).

kira-kira kalau semakin rame pasar burung ini, bakal dipindah kemana lagi ya?