Jam-jam tak terawat
Disekitar kota Purwodadi ternyata banyak jam yang sengaja diletakkan di wilayah publik. Mungkin dulunya jam-jam itu selain digunakan untuk elemen estetika juga bisa digunakan sebagai pedoman untuk nyocokke wektu bagi masyarakat atau apa saya juga tidak begitu tahu, karena seingat saya jam-jam itu sudah ada dari saya kecil.
Peletakan jam yang paling bisa diingat oleh orang Purwodadi yang pertama dan bahkan sekarang jadi salah satu landmark kota Purwodadi adalah di Protelon Lampu Telu atau ada juga yang menyebut Protelon Jam. Protelon Lampu Telu adalah pertigaan yang terletak diantara Jl. Jend. Sudirman dan Jl. Letjend S Parman Purwodadi. Namun ada juga yang menyebutnya sebagai daerah segitiga emas lho… tapi itu untuk taman kota yang terletak di samping pertigaan itu.
Selain di pertigaan itu ada juga jam sejenis itu yang terletak di bundaran simpanglima. Kalau anda dari arah selatan (Jl. Diponegoro) anda bisa melihat jam tersebut berdiri di sisi luar trotoar bundaran simpanglima.
Yang terakhir (yang saya tahu) ada di sebelah utara jembatan Kali Lusi. Sayangnya yang satu ini sedikit terancam tertutup oleh lapak dagangan kios disebelahnya. Sudah agak susah melihatnya… namun masih terlihat kalau anda mencarinya dengan seksama
Yang membuat sedikit miris adalah sepertinya sekarang semua jam itu sekilas sudah tidak terawat. Mungkin karena sekarang orang sudah bawa arloji sendiri-sendiri, atau paling tidak membawa kotak ajaib yang tidak hanya bisa menunjukkan waktu namun juga bisa untuk berkomunikasi dengan orang lain (hape).
Kira-kira ada lagi nggak ya jam yang dipajang di ruang publik di Purwodadi? Sepertinya yang berada di jalur barat belum ketemu nih…
Halte Tangoeng
Kemarin iseng-iseng mencari info tentang Grobogan jaman dahulu, siapa tahu ada info menarik lagi yang bisa saya dapatkan. Dan tanpa sengaja saya mendapati sebuah gambar tentang Stasiun tertua di Indonesia yang masih tetap beroperasi ini yaitu Stasiun Tanggung (TGG).
Litografi stasiun Tanggung berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard (1883-1889) ini saya temukan di halaman wikipedia. Sekilas mirip dengan foto kuno ini (atau mungkin memang karya ini dibuat berdasarkan foto ini?) yang saya temui di situs semboyan35 dulu…
Satu hal yang agak mengganggu dari Litografi mbah Josias Cornelis Rappard ini adalah pada tulisan nama stasiun yang terpampang. Di gambar itu tertulis HALTE TANGOENG. Suatu kesalahan kecil yang sangat manusiawi. Karena hanya menghilangkan satu huruf G, namun sangat mengganggu buat saya.
Bagaimana menurut anda?
—————————————–
*gambar atas milik bersumber pada wikipedia dengan lisensi Creative Commons Atribusi-Berbagi Serupa 3.0 Unported atribut gambar: Tropenmuseum of the Royal Tropical Institute (KIT)
**gambar bawah dulu saya temukan di situs semboyan35, namun sayang saya lupa letak tautan yang menuju gambar tersebut (sudah saya cari namun belum ketemu
)
Siapakah Raden Soedjati Soemodiardjo?
Kemarin waktu ngobrol dengan teman, dengan tanpa sengaja muncul pertanyaan tentang salah satu landmark kota Purwodadi. Kebetulan waktu itu semua tahu kalau nama RSUD Kabupaten Grobogan sekarang ini adalah RS Raden Soedjati. Namun ketika terlontar pertanyaan;
SIAPAKAH RADEN SOEDJATI?
semuanya langsung diam. Dan ajaibnya tidak ada yang tahu dengan persis siapakah raden Soedjati itu (termasuk saya). Hanya jawaban “mungkin beliau itu salah satu tokoh dokter Indonesia” dan bahkan ada yang bilang “MUNGKIN beliau itu salah seorang PAHLAWAN DARI PURWODADI” . Tapi apakah benar seperti itu? Entahlah…
Karena tidak puas dengan jawaban itu, maka setelah nyampe rumah saya iseng-iseng saya buka internet dan mulai sibuk mencari-cari siapakah raden soedjati ini. Dan sedikit pencerahan saya dapatkan. Nama lengkap Raden Soedjati itu adalah Raden Soedjati Soemodiardjo. Namun sayang seribu sayang, informasi yang saya temui di internet baru itu. Bahkan pada situs resmi RSUD Kabupaten Grobogan juga tidak menyebutkan siapakah sebenarnya beliau.
Suatu misteri yang menarik untuk dipecahkan…
Semoga suatu hari nanti saya bisa mengetahui siapakah Raden Soedjati sebenarnya… Atau mungkinkah anda tahu dan mau berbagi informasi ini untuk saya?
Tabik
Masjid Jabalul Khoir
Iseng-iseng buka-buka folder di harddisk, ternyata ada satu foto Masjid Jabalul Khoir yang lokasinya berada di Simpanglima Purwodadi. FYI masjid ini adalah salah satu masjid terbesar di Purwodadi disamping masjid Baitul Makmur yang terletak di alun-alun kota Purwodadi.
Setelah googling sebentar, ternyata foto ini dulunya saya dapati dari Panoramio dan diunggah oleh wherrysusanto. (Untuk lisensi foto silakan langsung ditanyakan pada pemiliknya ya.. soalnya cuma tertulis “© All Rights Reserved by wherysusanto“). Karena dipotret tahun 2007 pastinya sekarang sudah berubah apalagi setelah ada pemugaran di masjid ini.
Terus kenapa pamer foto yang bukan milik pribadi?
Sebenarnya simpel saja…
#1. Saya belum pernah motret masjid ini ![]()
#2. Fotonya bagus…
(terima kasih untuk wherrysusanto yang telah mengunggahnya)
#3. Males motret… apalagi setelah tahu banyak postingan tentang Purwodadi-Grobogan yang di copy-paste secara brutal, baik foto maupun artikelnya.
Sebenarnya ada beberapa keunikan Masjid ini yang sepertinya tidak begitu diperhatikan orang-orang… yaitu arsitektur dari bangunan masjid ini. Keunikan masjid ini adalah tidak adanya kubah diatas atap masjid ini. Jadi kalau kota Semarang memiliki Gereja Blenduk sebagai landmark kota Semarang karena keunikan arsitektur bangunannya, kota Purwodadi juga memiliki Masjid Jabalul Khoir yang justru merupakan masjid yang tidak memiliki kubah di atapnya selaiknya bangunan masjid-masjid yang lain.
Selain itu masjid ini memiliki keunikan lain, seperti tidak adanya menara masjid dan konstruksi bangunan yang hanya disokong oleh pilar-pilar yang terletak di pinggir (menyatu dengan dinding) berbeda dengan masjid lain yang ada pilar di tengahnya. Tentang seberapa besarnya pilar bisa anda lihat di serambi masjid karena di serambi tidak ada dindingnya, hanya pilar-pilar besar penyokong atap masjid
.
Oh iya… pilar-pilar ini kalau pas ada event Jum’atan selalu laris lho buat senderan para jamaah yang pengen ngeluk geger dan niat untuk tertidur ditemani angin sepoi-sepoi beserta bau ayam goreng yang lezat selagi mendengarkan khatib yang sedang berkhotbah…
Last but not least... mungkin kalau ada yang mau mempromosikan masjid Jabalul Khoir ini sebagai tetenger atau landmark kota Purwodadi, mungkin kota Semarang bisa jadi merasa tersaingi karena ternyata ada kebalikan dari Gereja Blenduk yang mirip masjid di Semarang yaitu Masjid Jabalul Khoir yang secara arsitektur tidak mirip masjid
*kira-kira lambang rambu-rambu lalu lintas yang menunjukkan lambang masjid itu perlu direvisi nggak ya? –haiyah–
Sumber foto: http://www.panoramio.com/photo/26590841
dot Com
Sekarang ini sepertinya apa-apa dibuat versi [dot]Com. Tak terkecuali usaha jualan penganan serba gorengan yang ada di alun-alun kota Purwodadi. Dengan pedenya sang penjual memasang nama [dot]com di gerobak dagangannya. Jadinya dagangan serba gorengan yang berjudul Goreng-goreng ini menambahkan tulisan www.goreng_goreng.com di lapaknya walaupun sepertinya diralat oleh penyewa space di lapak itu dengan tulisan yang lebih masuk akal www.goreng-goreng.com karena mungkin sang pemasang iklan itu tahu bahwa karakter underscore itu tidak bisa digunakan sebagai alamat domain.
Masalah alamat domain yang ditulis itu beneran ada atau tidak, tidak ada yang mempermasalahkan. Masalah alamat domain bisa menggunakan underscore atau tidak, itu lain soal. Nggak ada yang protes kayaknya. Yang penting ada [dot]com-nya
Diluar urusan [dot]com, gorengan tetaplah gorengan… hanya nikmat kalo dimakan selagi hangat, apalagi ditemani secangkir teh nasgithel. Jadi, mari ngemil gorengan
Rambu yang aneh
Setelah dulu pernah ngepost gambar rambu yang agak-agak lucu – menurut saya sih lucu, kalau orang lain menganggap tidak ya terserah selera masing-masing
– eh sekarang koq ya nemu lagi rambu yang aneh. Kali ini berada di daerah antara Purwodadi – Godong. Rambu ini hanya menampilkan gambar shockbreaker dan masih ditambahi tulisan SKOK.
Buat yang punya SIM nggak nembak kira-kira tahu nggak ya dengan arti rambu skok ini?? Soalnya pas aku buka buku pintar karangan pak Iwan Gayo, nggak ada rambu semacam ini. Apa mungkin… karena sang buku telah habis masa berlaku kepintarannya ya?
Tapi tampaknya tidak perlu ada yang bingung dengan rambu skok ini, karena rambu ini kayaknya hanya ingin menunjukkan ada bengkel shockbreaker didekat situ (kebetulan diseberang jalan ada bengkelnya).
Negara PURWODADI
Purwodadi adalah suatu kota kecil di sebelah timur Semarang, yang merupakan ibukota dari kabupaten Grobogan… namun entah mengapa orang lebih mengenal Kabupaten Grobogan dengan sebutan Purwodadi. Jadi bila ada yang mengaku berasal dari Purwodadi bisa jadi tidak benar-benar berasal dari Purwodadi namun berasal dari Kabupaten Grobogan yang luas.
Namun percayakah anda kalo Purwodadi itu juga merupakan suatu nama NEGARA?? Inilah buktinya;
Maaf hanya guyon garing dan basbang… Mohon jangan dimasukkan hati ![]()
Hanya menuliskan ulang guyonan yang pernah dilontarkan oleh om Paedjo dan om Sandal, dulu… entah kapan… sudah lupa persisnya.
Tabik…
Sebenarnya kapan menara air itu mulai ada?
Dulu pernah iseng ngeshare foto-foto kuno simpang lima di ForGrob yang saya temukan (emangnya pernah ilang?) bertebaran di jagat dunia maya ini. Dengan semangat asal copy paste saya juga menambahkan keterangan yang didalamnya, pokoknya yang ada nggak cuma foto, keterangannya juga saya post kesitu.
Untuk yang saya dapat dari kaskus hanya ada gambar saja… tanpa ada keterangan kapan dan siapa pemilik foto-foto jadul ini. Berikut foto yang dari kaskus (foto sebelah kiri dan tengah) dan satu foto dari sumber yang lain itu…
Masalahnya adalah… pada post disitu (awal post) saya juga majang foto kuno dari sini, dan keterangannya yang sekarang ini jadi saya ragukan kebenarannya. Di sumber tersebut tertulis keterangan gambar (untuk foto yang paling kanan) tersebut,
simpanglima purwodadi tahun 1975
Terus terang dulunya saya telan mentah saja informasi itu, mau beneran tahun 1975 atau tidak, ah emang gue pikirin… Namun setelah ada pertanyaan dari tuan gembelkuasa yang jauh-jauh dari Nederland, saya bingung… (but thank you untuk pertanyaan yang membuat saya mikir ini)
tapi jare ng prasastine kan diresmikan tahun 1981 (aku moco ng blog-mu kang…
)
nek fotone taun 1975m mosok kaceké 6 taun dr peresmian…? cmiiw
Benar juga ya… Dulu pernah nulis dan motret-motret menara air simpanglima Purwodadi ini… koq di prasasti di resmikan tahun 1981?? Apa mungkin sudah berdiri lamaaaaaa banget baru diresmikan?? Entahlah.. sudah gugling belum ketemu-ketemu jawabannya..
Berikut ini gambar plakat peresmian yang ada disamping pintu masuk ke menara air simpanglima tersebut…
Kira-kira adakah yang tahu kapan menara air simpanglima itu didirikan? Semoga ada sesepuh Purwodadi yang mampir dan menjelaskannya..
Tabik
Antara sate, jamu dan gukguk
Menurut situs artikata, sate itu berarti “irisan daging kecil-kecil yg ditusuk dan dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap: — ayam; — kambing;” sedangkan jamu berarti “obat yg dibuat dr akar-akaran, daun-daunan, dsb;“
Nah.. kalau kita melewati Jalan Diponegoro Purwodadi (dari Simpanglima Purwodadi ke arah kota Solo) maka di kiri kanan jalan akan banyak menemui warung pinggir jalan yang menawarkan dagangannya yang berjudul SATE JAMU. (Mungkin kalau diurutkan terus sampe Solo malah lebih banyak kayaknya)
Mungkin agak membingungkan buat orang yang bukan berasal dari sekitar sini (Purwodadi – Solo dan sekitarnya) tentang pengertian sate jamu tersebut. Sate jamu yang dimaksud bukanlah sate seperti halnya sate ayam atau sate kambing dengan dibumbui bahan herbal seperti jamu, namun sate jamu yang dimaksud adalah suatu kreasi kuliner yang menurut saya ekstrim karena daging yang digunakan adalah daging anjing, selain itu anjing yang akan dimasak juga dibunuh dengan cara yang ekstrim… yaitu anjing-anjing itu dibunuh tanpa meneteskan darah setetespun. Caranya bisa dengan menenggelamkan anjing di sungai atau bak air, menggantungnya, menyetrum, atau cara yang lebih simpel dengan memasukkan anjing ke karung dan pukul si anjing sekuatnya…. hiiiii serem deh pokoknya. (Kebetulan rumah simbah di Sukorejo deket dengan juragan sate jamu… jadi dulu pernah lihat proses-proses sadis itu, katanya sih buat nambah khasiat sate jamunya).
Mungkin karena namanya yang sangat menjual (brandnya bagus kalo bahasa marketingnya *halah*), bisa jadi untuk orang luar Jawa Tengah ikutan ngincipi sate ini karena tidak mengetahui kalo produk sate ini termasuk makanan HARAM. Mungkin ada baiknya kalo judulnya dibikin seperti foto berikut ini (diambil mbak sheva pas di Solo)…. walaupun disini juga sudah ada yang menggunakan foto anjing sebagai gambar latar di terpal luar dengan cetak digital.
Dengan judul seperti ini mungkin persepsi orang yang akan membeli sate mungkin akan lebih terpaku menuju ke figur GUGUK itu, bukan ke JAMUnya…
*tabik*
Tugu tani Purwodadi
Tadi kebetulan baca koran ada demo dari petani pas Hari Tani yang konon jatuh pada hari ini 24 September. Sebenarnya saya baru tahu kalo di Indonesia yang katanya negara agraris ini ada Hari Tani… Mungkin karena tanggalan pas Hari Tani ini nggak pernah dicetak dengan warna merah seperti hari ini (hari minggu) atau juga karena memang bukan petani..
Kebetulan kemarin pas bersih-bersih hardisk nemu foto Tugu Tani yang berada di ujung Jalan Gajah Mada Purwodadi ini, hasil jepretan beberapa tahun yang lalu. (Harap dicatat tugu ini bukanlah tugu tani yang berada di kota jakarta yang merupakan hadiah dari pemerintah Uni Soviet pada saat itu kepada pemerintah Republik Indonesia sebagai manifestasi dari persahabatan kedua bangsa.)
Menurut analisa saya...–halah– mungkin tugu ini dibuat sebagai penanda kota (landmark) bahwa kabupaten Grobogan ini sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian (seperti yang ditulis di situs resmi PemKab Grobogan). Suatu alasan yang mungkin paling masuk akal buat saya dan alasan yang palinga aman karena akan sangat kecil kemungkinan patung ini dihancurkan massa gara-gara ada yang menganggap tugu kota sebagai berhala… –halah-kuadrat–
Patung didepan Pendopo Kabupaten Grobogan
Dulunya saya mengira patung pembawa tombak trisula dan perisai pancasila di depan pendopo Kabupaten Grobogan itu sudah berdiri sejak dulu kala… maksudnya usianya sebelas-duabelaslah dengan bangunan pendopo kabupaten itu. Namun sepertinya pendapat itu langsung luntur waktu saya menemukan foto tempo doeloe pendopo itu dengan format hitam-putih yang berjudul “Pendopo 70an” di Flickr.
Disitu terlihat jelas sang patung pembawa tombak trisula dan tameng pancasila itu belum ada, dan logo Kabupaten Grobogan masih terlihat jelas di tiang bendera. Jauh berbeda dengan keadaan sekarang yang kalo dilihat dari depan yang terlihat adalah tulisan “KANTOR BUPATI GROBOGAN” dan sang patung pembawa tombak trisula dan tameng pancasila itu yang kini berwarna keemasan. *saya lebih suka dengan warna hitam yang kemarin, lebih berkesan gimana gitu… –halah
Dan sekarang jadi kepikiran… ‘apa patung itu dibuat dengan tujuan propaganda orde baru?’ –ah entahlah… toh orba juga sudah lengser
BTW.. adakah yang tahu makna dari patung itu?? Dan kapan berdirinya?
NOTE: hak cipta foto pada pemilik foto masing-masing.. saya cuma nemu di Flickr
(Klik pada gambar untuk mengetahui sumbernya)
Awas, ini sirup…
Mungkin pas momennya… pas bulan ramadan,mesti banyak yang ngobrolin sirup… wajar saja karena orang senang dengan yang manis-manis… dan yang manis-manis dan mungkin terkenal khas dari Purwodadi adalah sirup ini… Sirup Kartika. *jadi inget dulu ada temen yang bela-belain pulang ke Purwodadi untuk pamer sirup in pas ramadan
Entah pas bawa ada botol yang pecah apa nggak, saya nggak tahu…
Foto-foto disamping ini adalah foto sirup kartik
a yang terkenal sebagai sirup khas Purwodadi Grobogan dalam kemasan baru. Mengikuti kemajuan jaman, sekarang ternyata ada yang dalam kemasan botol plastik atom. Tapi koq rasanya mirip kemasan botol fanta si minuman bersoda itu ya? Jangan-jangan itu botol recycle ya? apalagi sekarang kan lagi musim reuse, reduce, recycle kan?? Ternyata bukan sodara-sodara.. dipantat botol terukir nama PT KARTIKA PM.
Karena botolnya dan kemasan yang sama-sama merah, ada baiknya kemasan ini jangan ditempatkan di kulkas atau disamping minuman lain… lebih aman jauhkan dari jangkauan tangan atau orang yang males baca label agar terhindarkan dari tragedi minum sirup kental manis
NB: bukan iklan, kalo kebetulan ada promosi produk… itu rejeki mereka…
Becak bermesin (2)
Hanya ingin ngeshare gambar hasil jepretan modifikasi becak yang diberi mesin biar kencang larinya… Lanjutan dari postingan becak bermesin episode 1 yang hanya terlihat dari belakang, karena sang pilot sedang buru-buru ngejar setoran
Sebenarnya pengen foto dengan eksyen nangkring diatas becak itu… tapi apa daya sedang sendirian waktu itu….
*Lokasi: Jengglong, sebelah utara pasar Purwodadi
Tugu menara air
Setiap kota pasti memiliki landmark tersendiri yang membuat kota tersebut beda dengan yang lain, begitu juga dengan Purwodadi yang memiliki suatu tugu yang tinggi menjulang dibundaran simpang lima.
Simpanglima ini terletak di bagian selatan kota Purwodadi dan bukanlah alun-alun kota seperti pernah (beberapa kali) saya temui orang menganggapnya seperti itu. Yang membedakan adalah adanya tugu yang tinggi menjulang ditengahnya, dan yang lebih jelasnya alun-alun pasti ada pendoponya sedangkan simpanglima ini tidak ada pendoponya.
Tugu ini bukanlah sebuah tugu prasasti yang hanya melambangkan sesuatu seperti halnya tugu monas di jakarta, namun lebih berfungsi sebagai penyuplai air ledeng ke seluruh penjuru kota. Karena kota Purwodadi berupa dataran sehingga untuk menyebarkan air ke seluruh penjuru kota dibangunlah menara air ini. Btw menara air ini ternyata lebih tua dari umurku lho…
Dulunya kalo dolan-dolan ke simpanglima, yang menjadi daya tarik utama adalah numpak gajah (karena naik sampe ke puncak menara tidak memungkinkan), namun ternyata kondisi sang gajah sekarang.. sangat memprihatinkan… sepertinya sang gajah mulai ambles, mungkin karena terlalu gemukkah? buat yang merasa gemuk, waspadalah.. wasapadalah..
**Kali ini hanya pengen ngeshare foto-foto tugu menara air yang berada di simpanglima Purwodadi ini, hasil nyoba kamera yang lagi error lampu blitznya… dan ternyata masih bagus lho kalo dipake di cuaca terang benderang..
Tapak belo
Minggu kemarin pas bapak dan ibu (bersama rombongan sedulur lainnya juga) pulang dari Kedungjati membawa suatu jajanan yang bentuknya aneh unik…. Jajanan yang bentuknya seperti ketan lopis (yang tanpa ketan), namun ditumpuk dengan diselani daun pisang diantara tiap lapisan lopis tersebut.
Katanya bapak dan ibu, jajanan ini namanya TAPAK BELO. Salah satu makanan / jajanan khas dari kabupaten Purwodadi Grobogan. Terbuat dari lopis yang disusun dengan disekat daun pisang *lhah… kan sudah tadi*
Rasanya…. karena terbuat dari lopis ya jadinya mirip lopis..
Mau?? Silakan ngiler….
*tulisan kuliner dari orang yang nggak suka jajan…
Tugu Ganesa
Tugu Ganesa, salah satu landmark dari kota Purwodadi. Kadang membuatku teringat serial Ganesha kecil di tivi beberapa saat yang lalu.
Entah bagaimana sejarahnya bisa dibangun Tugu Ganesa disitu, kapan dibangun, apa maksudnya dan melambangkan apa saya juga kurang tau.. kalau menurut wikipedia sih Ganesa itu perlambang Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Kira-kira tugu ini dimaksudkan sebagai lambang apa ya? Mungkin semuanya.. hehe…
Satu hal yang agak jadi pikiran.. Kenapa patung Ganesa ini menghadap ke arah barat ya? Apakah juga ada arti khusus atau melambangkan sesuatu? Ataukah hanya menghadap ke arah India dimana tokoh Ganesa ini lahir? *analisa super ngawur*
You know something about that?
monggo dibagi… saya dengan senang hati menerimanya..
*tabik*
Becak bermesin
Becak bermesin… suatu moda transportasi yang sekarang agak sering dijumpai di Purwodadi. Bentuknya unik.. ada yang berupa hasil modifikasi sepeda motor yang dipotong lalu disambungkan ke becak, ada pula yang berupa becak yang ditempeli mesin seperti gambar diatas… entah mesin apa itu ya…
Yang agak membingungkan itu, jenis kendaraan ini termasuk apa? becak? atau motor? atau malah dimerger saja sekalian jadi becak motor?
*ah entahlah*
Bahagia itu bisa dibeli
Ada yang bilang “bahagia itu tidak bisa dibeli dengan apapun”. Tapi ada juga yang bilang, “Uang bisa membeli segalanya”… Manakah yang menurut anda benar?
Yang jelas, di Purwodadi telah terbukti bahwa bahagia (lebih tepatnya rasa bahagia) itu bisa dibeli. Inilah buktinya…
rasa bahagia yang bisa dibeli
*HANYA ADA DI PURWODADI
Ngetes memori
Seiring bertambahnya usia maka diakui atau tidak kemampuan mengingat akan berkurang… Nggak setuju? coba saja anda ingat-ingat tulisan berikut; BABINMINVETCADDAM IV DIPONEGORO KANMINVETCAD IV/23. Masih kuatkah memori anda mengingat kata-kata tersebut?
Kata-kata ini bukan saya yang buat, namun itu adalah kata-kata yang tertulis pada plang nama sebuah bangunan di Jl. R. Suprapto Purwodadi. Jika penasaran dengan pengen tau apa bener ada bangunan dengan nama seperti itu, silakan saja dicari di jalan R. Suprapto Purwodadi… ancer-ancernya di sebelah utara elpe Purwodadi (elpe = Lembaga Pemasyarakatan alias Rumah Tahanan Negara).
Entah apa arti tulisan BABINMINVETCADDAM IV DIPONEGORO KANMINVETCAD IV/23 itu… tapi setelah mencari-cari info di internet, ketemu juga artinya… Babinminvetcaddam itu kependekan dari Badan Pembina Administrasi Veteran dan Cadangan KODAM. sedangkan Kanminvetcad adalah singkatan dari Kantor Administrasi Veteran dan Cadangan (kayaknya).
Jadi… masih berminatkah ngetes memori anda? masih bisakah anda menghapal tulisan itu? (karena sudah tahu artinya)… atau sudah soak berkurangkah kemampuan memori anda dalam mengingat sesuatu sehingga males untuk menghapalkannya?
*ah posting gak penting
Ada yang saru tertangkap kamera
Saru.. satu kata dalam bahasa jawa yang jika dalam bahasa Indonesia bisa diartikan tidak senonoh, atau bisa juga diartikan cabul. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena adab. Biasanya yang melakukan hanya akan kena sanksi sosial.
Di Purwodadi ada tulisan yang sangat unik yang berisikan peringatan (atau larangan) untuk tidak parkir di depan pintu. Tulisan itu berada di kantor Pe-U-Ka yang berisikan kata-kata: “JANGAN PARKIR DI DEPAN PINTU DAMKAR. SARU!“
Mungkin sang pembuat tulisan hanya ingin menyuruh meminta (dengan sopan) agar orang-orang tidak memarkir kendaraaannya didepan pintu garasi mobil pemaDAM kebaKARan yang bisa saja sewaktu-waktu harus keluar karena tugasnya.
Namun sayangnya koq ya masih ada yang nekat parkir di depan pintu ya?? Apakah tulisannya yang kurang gede? Apakah nggak paham dari kata saru? atau karena kepepet karena tidak ada lahan parkir yang luas dan sejuk, sehingga harus parkir didepan tulisan itu? atau mungkin karena parkirnya cuma sebentar saja?? Entahlah.. tapi yang jelas karena telah melanggar larangan itu… yang parkir itu sekarang boleh dibilang SARU..
NOTE: untuk yang mencari gambar-gambar ‘saru‘, maaf gambar yang dipajang cuma satu…
Wallstreet ala Pringgondani
Kalo ada yang menyebut kata wallstreet mungkin akan terpintas pikiran adalah sebuah nama jalan di pinggiran kota Manhattan di New York. Tapi saya nggak pengen nulis itu… hanya kepikiran kata wall (tembok/dinding) dan street (jalan). Sekarang monggo diperhatikan gambar diatas… sepanjang jalan ini sampe mentok diujung… di sebelah kiri itu tembok semua… boleh nggak ya kalo jalan ini disebut juga wallstreet??
Terus kenapa judulnya pake kata-kata ala Pringgondani?ada hubungannya dengan Gatotkaca-kah?? Ah tidak juga… kebetulan foto ini diambil di jalan gang Pringgondani, yang kebetulan (lagi) berada di lingkungan dua buah sekolah yaitu SMAN 1 Purwodadi dan SMA PGRI. Jadi terjawab sudah tembok panjang itu tembok dari bangunan apa
*Hanya iseng motret jalan dari depan rumah
Rambu ndagel..
hihihi… rambu lalu-lintas yang lumayan lucu… semoga yang bikin kata-kata itu bu polwan, bukan pak polisi
Sayangnya rambu ini sudah jarang saya temui… dulunya sih kayaknya banyak dipasang di pingir jalan (masak iya ditengah jalan) dikawasan mau masuk ke wilayah Purwodadi kota… rata-rata isinya tentang tertib lalu-lintas…
Hanya pengen menunjukkan wajah sudut kota Purwodadi yang jarang terekspos…
Note:
- foto bukan milik saya, nemu di hardisk warnet.. entah milik siapa
- arti tulisan “Mas ojo ngebut Aku isih seneng Karo Sliramu” = Mas jangan ngebut, I still love you.. (terjemahan bebas ala Q-thrynx hehe)
Pernah lihat kecap Purwodadi yang ini?
Iseng googling nemu gambar produk Kecap Purwodadi…
Yang menarik, kalo kita ngomong tentang kecap purwodadi.. saya yakin kecap yang dimaksud adalah kecap cap Udang..
tapi tunggu dulu… pernahkah anda melihat kecap ini dipurwodadi?? Bila dilihat dari kemasannya tertulis produsennya sama koq dengan kecap cap Udang itu…
Kecap Purwodadi
Mrs. Oei Hok Hoo or Ms. Eniwati
Toko Wijaya Baru, CV Sarana Cipta Kasih
Jalan Siswa, Purwodadi
Central Java
apa karena saya yang nggak pernah nyari kecap selain merk Cap Udang, atau kecap ini adalah kecap nyonya Hok Hoo (orang Purwodadi nyebut HOGO) yang khusus buat ekspor ya?
*tabik*
note: semua gambar adalah milik Indrani Soemardjan
Stasiun KA Purwodadi… apa kabar?
Iseng-iseng pas malem-malem disertai hujan gerimis (maklum aja, mepet imlek.. kalo pas imlek gak hujan ntar ada yang sawanen hehehe), nyoba-nyoba googling tentang purwodadi jaman dulu… pengennya sih nemu foto-foto jaman dulu, atau malahan nemu sejarah yang nyangkut dengan kota purwodadi..
Dan tanpa diduga nemu foto yang yang ada keterangannya “Stasiun_Poerwodadi_1884_PGSM”.
FYI, PGSM adalah singkatan dari Poerwodadi-Goendih Stoomtram Maatschappj.. yang katanya merupakan jalur kereta api yang terpendek waktu jaman kolonial, yaitu sekitar 17km. btw di kabupaten Grobogan ini (orang lebih suka nyebut dengan Purwodadi) juga sejarah perkereta-apian di Indonesia di mulai… (dulu kayaknya pernah nulis tentang Halte Tanggoeng deh.. hehe)
Inilah foto yang saya maksud itu… nemu dari situs skyscrapercity… (sssstttt.. sebenernya nemu dari google ding)

Benar gak ya? Perasaan koq sudah beda banget ya sama kondisi bekas stasiun kereta api Purwodadi yang letaknya persis di sebelah selatan Pasar Purwodadi itu.. apa karena sekarang sudah berubah fungsi jadi terminal angkot ya?? Silakan bandingkan dengan foto yang saya dapat dari situs semboyan35 ini..
*tabik*




















komen barusan