Antara sate, jamu dan gukguk
Menurut situs artikata, sate itu berarti “irisan daging kecil-kecil yg ditusuk dan dipanggang, diberi bumbu kacang atau kecap: — ayam; — kambing;” sedangkan jamu berarti “obat yg dibuat dr akar-akaran, daun-daunan, dsb;“
Nah.. kalau kita melewati Jalan Diponegoro Purwodadi (dari Simpanglima Purwodadi ke arah kota Solo) maka di kiri kanan jalan akan banyak menemui warung pinggir jalan yang menawarkan dagangannya yang berjudul SATE JAMU. (Mungkin kalau diurutkan terus sampe Solo malah lebih banyak kayaknya)
Mungkin agak membingungkan buat orang yang bukan berasal dari sekitar sini (Purwodadi – Solo dan sekitarnya) tentang pengertian sate jamu tersebut. Sate jamu yang dimaksud bukanlah sate seperti halnya sate ayam atau sate kambing dengan dibumbui bahan herbal seperti jamu, namun sate jamu yang dimaksud adalah suatu kreasi kuliner yang menurut saya ekstrim karena daging yang digunakan adalah daging anjing, selain itu anjing yang akan dimasak juga dibunuh dengan cara yang ekstrim… yaitu anjing-anjing itu dibunuh tanpa meneteskan darah setetespun. Caranya bisa dengan menenggelamkan anjing di sungai atau bak air, menggantungnya, menyetrum, atau cara yang lebih simpel dengan memasukkan anjing ke karung dan pukul si anjing sekuatnya…. hiiiii serem deh pokoknya. (Kebetulan rumah simbah di Sukorejo deket dengan juragan sate jamu… jadi dulu pernah lihat proses-proses sadis itu, katanya sih buat nambah khasiat sate jamunya).
Mungkin karena namanya yang sangat menjual (brandnya bagus kalo bahasa marketingnya *halah*), bisa jadi untuk orang luar Jawa Tengah ikutan ngincipi sate ini karena tidak mengetahui kalo produk sate ini termasuk makanan HARAM. Mungkin ada baiknya kalo judulnya dibikin seperti foto berikut ini (diambil mbak sheva pas di Solo)…. walaupun disini juga sudah ada yang menggunakan foto anjing sebagai gambar latar di terpal luar dengan cetak digital.
Dengan judul seperti ini mungkin persepsi orang yang akan membeli sate mungkin akan lebih terpaku menuju ke figur GUGUK itu, bukan ke JAMUnya…
*tabik*



kalo soal penamaan saya kurang setuju mas, mungkin diantara penamaan “sate anjing”, “sate asu”, “sate dog”, “sate guguk”, “sate jamu” saya lebih setuju dengan nama “sate anjing”. soalnya menggunakan bahasa indonesia yg sudah dikenal luas, setelah saya survei keliling purwodadi semua penamaan menggunakan bahasa indonesia. misalnya “sate ayam”, “sate kambing”, “sate kelinci”, “sate kuda”, “sate sapi”, semuanya pakai bahasa indonesia walau berlokasi di jawa tengah khususnya purwodadi. mengapa kok gak ada yg pakai nama “sate pithik”, “sate wedhus”, “sate truwelu”, “sate jaran”, “sate lembu”. demikian pantauan dan laporan saya dari wilayah purwodadi dan sekitarnya.
Sabtu, 15 Oktober 2011 pada 18:26
yakin gak ada “sate truwelu” dan “sate jaran” di Purwodadi?
silakan survei lagi mas….
Sabtu, 15 Oktober 2011 pada 21:37
dimana mas kok saya nggak menemukan tulisan itu di purwodadi !
Sabtu, 15 Oktober 2011 pada 23:14
kasih tahu gak ya?
Minggu, 16 Oktober 2011 pada 00:07
gak tau yaa NDESO .. .. .. waka waka .. .. ..
Minggu, 16 Oktober 2011 pada 06:21
Mengapa jumlah warung sejenis ini makin banyak ya ?
Jumat, 4 November 2011 pada 14:41
saya nggak tahu jelas sebabnya… tapi biasanya kalo makin banyak warung yang jualan, berarti makin banyak konsumennya pak…
Jumat, 4 November 2011 pada 20:59
hahaha…
knapa dibilang jamu???? krn khasiatnya mantap buat kaum adam mas…
duh, jd pengen njamu.. –a
Selasa, 29 November 2011 pada 21:27
jamu yang dimakan ya mas… bukan jamu yang diminum
Rabu, 30 November 2011 pada 22:06
melalui Anda saya ingin menyampaikan sikap perlawanan saya terhadap pembunuhan anjing di Solo yang marak untuk dijadikan sate jamu. Saya sudah laporkan ke Polisi dan LSM Hewan. Bagi pedagang sate jamu yang membaca ini saya katakan saya tidak bisa memaafkan perbuatan kalian karena anjing yang saya pelihara dari bayi menjadi layaknya anggota keluarga. Anjing saya adalah teman dan pelipur lara orang tua saya yang sudah pensiun apalagi adek saya sedang menderika kanker. Pagi ini anjing saya diracun bersama satu anjing tetangga. Anjing tetangga milik nenek tua yang sudah dipelihara puluhan tahun. Nangis2 itu si embah. Kenapa anjing rumah yang diincar? Itu sama saja membunuh anggota keluarga. Berapa banyak tangisan yang sudah kalian sebabkan. Ingat ya, saya tidak akan berhenti sampai disini. Hewan pun punya hak untuk hidup, makhluk Tuhan juga, apalagi cara kalian membunuh sangat sadis. Perlu kalian ketahui, sudah banyak kutukan yang keluar dari mulut pemilik anjing kepada kalian.
Selasa, 27 Desember 2011 pada 13:23
semoga pesan anda tersampaikan
Selasa, 27 Desember 2011 pada 14:11